Posts

Longsor Ingatkan Janji Bangun Infrastruktur

Image
Janji pemerintah tinggallah janji jika belum ada insiden yang menegurnya. Konteks yang ingin saya sampaikan dalam hal ini adalah terkait bencana longsor di Lebong Tandai, Bengkulu Utara. Pertama-tama akan saya ceritakan bagaimana sulitnya menuju tempat terjadinya longsor ini. Dari kota Bengkulu dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam untuk mencapai kabupaten Bengkulu Utara. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ala off road menuju ke posko pertama di Kecamatan Napal Putih selama kurang lebih 1 hingga 2 jam. Dari kecamatan, for safety reason kita harus menggunakan kendaraan roda empat 4x4 untuk ke wilayah Ronggeng. Hati-hati, di perjalanan ini mobil bisa nyangkut di tanah yang lembek dan dalam. Dan siap-siaplah anda akan seperti buah dalam blender , terpental-pental dalam mobil. Medan yang melelahkan, meski naik mobil. Dari Ronggeng untuk menuju ke poskonya harus berjalan 500 meter. Lalu ikuti terus rel kereta Lori (kereta pada zaman Belanda, kini digunakan untuk Molek--kendaraan modi...

Lidah Digoyang di Palembang

Image
Apa? Anda kira ini tentang pempek? Maaf, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan hidup anda sia-sia. Masalahnya, masih banyak lagi makanan lainnya yang bisa dijajal dari Palembang selain pempek hehehe. Kuliner khas Palembang tidak hanya pempek apalagi hanya pempek kapal selam bro en sis. Jangan kecil hati, apalagi jadi keki dan iri hati: hampir semua makanan khas Palembang sudah saya jajal disini. Hehehe. Siap-siap ngiler yaa… 1.Pindang Patin Pindang ini bisa iga atau daging atau apa aja deh. Pindang itu jenis kuahnya. Tapi paling enak sih pindang ikan patin. Salah satu yang paaaaling eeeeeenak itu di Pindang Musirawas Angkatan 45. Tekstur ikan patin ini lembuut banget. Saya pas kesana makan yang kepala. Padahal ya saya gak suka bagian kepala. Tapi usai makan, saya justru gak melihat ada sisa apapun kecuali duri ikan di piring saya. Saking enaknya! Makanya kesini itu prinsipnya seperti Jusuf Kalla, “lebih cepat lebih baik” karena pindang patin yang bagian buntut itu cepat h...

Dagelan Politik Ala Setya Novanto

Image
Unsur nama Setya Novanto, mulai dari “Setya”, “Novanto”, “Setya Novanto” hingga inisial “SN” dan embel-embel jabatannya, “pimpinan DPR” “ketua DPR yang terhormat” memperkeruh layar kaca, layar telepon seluler dan layar koran. Saya pilih kata dasar keruh karena kenyataannya ia sungguh mengusik kenegarawanan saya. Dalam tulisan ini saya akan gunakan inisial “SN”. Hal ini disebabkan huru hara baru yang ia ciptakan. Ada salah satu fakta menarik menyusul huru hara ini, adanya dua petisi yang dikumpulkan di situs change.org untuk menurunkan SN dari jabatan pimpinan DPR dan membuka untuk umum sidang Mahkamah Kehormatan Dewan. Dua petisi ini sudah didukung oleh lebih dari 120.000 netizen dalam kurun waktu dua hari saja. Inilah hebatnya media, bisa membentuk opini publik, menyudutkan musuh bersama, dengan harapan bisa mewujudkan esensi hidup berdemokrasi: dari rakyat, untuk rakyat . Tetapi untuk this certain person , akankah media—setidaknya satu-satunya amunisi yang kita miliki saat i...

Belajar dari Nagreg

Kita masuki seri kedua tulisan “Menapaki Jejak Cileunyi, Nagreg, Garut, Bandung” dengan judul “Belajar dari Nagreg”. Pada hari ketiga jelang lebaran, kami menuju ke pusat masalah di jalur selatan selama arus mudik: Nagreg. Kami bermalam di tempat langganan biro Bandung setiap tahun, sebuah penginapan dengan arsitektur dan suasan jadul bernama “Al Madiniyah”. Suasananya sangat asri! Saya berasa lagi liburan di vila di Puncak. Sayang, gak sempat ambil foto disini. Saya terlalu menikmati suasana dan keakraban dengan tim disini. Bisa belajar apa dari Nagreg? Yang paling utama, belajar menghayati laporan saya. Untuk pertama kalinya saya mencoba laporan real time, alias laporan berdasarkan pandangan mata langsung saat sedang live . Biasanya saya sudah menyiapkan naskah setidaknya setengah jam sebelum live. Tetapi saat itu keadaan jalanan sangat dinamis, saya pikir macet eh ternyata lancar. Saat saya standby di depan kamera 15 menit sebelum on air pun, arus lalu lintas bisa berubah. ...

Menapaki Memori Cileunyi

Image
Memasuki bulan kesebelas saya berkarya di dunia jurnalistik. Saya ingin sedikit berbagi cerita tentang salah satu momen yang paling berharga di Cileunyi. Cileunyi adalah sebuah tempat yang mempunyai arti tersendiri bagi saya. Sampai kapanpun Cileunyi dan segela kerendahan hatinya, memiliki tempat khusus di hati saya. Hal ini disebabkan, untuk pertama kalinya saya menyampaikan laporan langsung atau biasa disebut dengan live report di salah satu kecamatan di kabupaten Bandung ini. Misi besar perdana: menjadi bagian dari Monitor Mudik Lebaran 2015. Sepuluh hari sebelum lebaran dan sepuluh hari setelah lebaran, saya digosongkan di bawah langit Cileunyi. Eh? Hahaha. Saya melaporkan arus lalu lintas, seperti NTMC Polri begitu… Ini adalah kali pertama saya keluar kota, menjalankan mandat kantor. Ini berarti saya juga harus mengurus keuangan perjalanan. Pusing bukan keliling lagi, kalo setrikaan mungkin pusing bolak balik. Untung saja ada Kak Dirhamsyah Maulana dan Kak Adi Nugroho alia...

Beautiful Islands: Maratua, Kakaban and Derawan

Image
Pulau Maratua... Pulau seluas 2200 hektar. Terpisahkan dari daratan provinsinya, Kalimantan Timur. Butuh waktu tiga jam untuk menyeberang dari Tanjung Redeb, Berau, ke Pulau Maratua dengan menggunakan speedboat. Siapkanlah 1,5 juta untuk satu kali perjalanan dengan speedboat ini. Bahkan kalau ombak sedang bergejolak, bisa sampai 4 jam atau lebih. Tapi kita menyentuh tanah Maratua, niscaya indahnya tiada duanya. Laut yang masih sangat bersih, langit dengan awannya yang menari-nari. Sungguh sungguh langka. Teras terdepan Indonesia, berhadapan langsung dengan perairan Malaysia. Kita harus bangga, Pemerintah hadirlah disini jangan sampai direbut tetangga! Maratua Island... An 2200 hectare island. Apart from its land province, East Borneo. It takes minimum three hour to cross the Sulawesi strait from Tanjung Redeb, Berau, to go to Maratua Island by speedboat (depended on the wave of the sea). Make sure you have 1,5 million rupiah to pay the one way speedboat. But when we step o...

Pecah Telor Seorang Reporter Junior

Image
Hari yang membuat jantung copot akhirnya datang. Setelah training beberapa bulan, saya mulai terjun ke lapangan. Beruntungnya saya, saya ditandem dengan seorang senior, Kak Stephanie Fortunata. Darinya, saya belajar tentang manajemen waktu seorang reporter untuk bisa mendapatkan semua narasumber yang diminta kordinator liputan,, dan berbagai hal teknis lainnya. Sungguh senangnya luar biasa bisa sedekat itu dengan Ahok. Saya ngefans banget sama ketegasan Ahok dalam memimpin. Tapi sebagai jurnalis, saya harus tetap objektif dan menghilangkan admirasi itu, agar saya tetap bisa melihat kebijakan-kebijakan dan tindak tanduk Ahok dengan objektif. Ya, jurnalis tidak boleh memihak dong. Selanjutnya tidak kalah menyenangkan. Saya bertemu in person dengan Ibu Betti Alisjahbana. Salah satu srikandi Pansel KPK. Inilah the privilege of being a journalist . Selain belanja berita, saya juga belanja pemikiran-pemikiran orang hebat. Semoga aja saya bisa sekeren ibu di masa depan. Long live ...