Posts

Showing posts with the label Journalist on Duty

Tak Hanya Bangkit Tapi Bergerak

Image
Pada tanggal 21 Mei, tepat 19 tahun silam, Presiden Soeharto lengser. Momen ini menandakan kebangkitan bangsa Indonesia dari era korupsi, kolusi, nepotisme yang menyedot rakyat ke lubang limbo. Jika kalian menonton film “Inception” karya Christopher Nolan, maka limbo digambarkan sebagai sebuah ruang gelap dimana seseorang terperangkap dalam mimpi buruk dan tidak bisa lagi keluar dari ruangan tersebut. Tidak. Kita tidak mau dan tidak akan berdiam di ruang itu. Kita telah memperjuangkannya setengah mati untuk bisa mewujudkan cita-cita hidup di tengah peradaban yang madani. Namun sayang, banyak orang yang terlanjur nyaman dengan situasi ber-KKN-ria. Berbagai cita-cita untuk kepentingan kelompok ingin dicapai tanpa usaha yang hakiki. Padahal seharusnya, angan dicapai dengan usaha. Sebagai insan manusia, baiknya kita berbuat sesuatu sesuai dengan bidang yang kita geluti untuk kemudian berbagi dengan yang belum memiliki. Menyadur pidato Presiden Joko Widodo saat Musyawarah Peren...

Suka Duka Wartawan Tempel AHY-Sylvi

Image
Tepat satu minggu sudah, saya tidak bergerilya. Haha bukan bukan, bukan lagi perang kok. Ituloh, istilah buatan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk kegiatan kampanye-nya setiap tatap muka dengan masyarakat. Duh. Iya, sejak bulan Oktober 2016 tiap hari saya liputan gerilya AHY. Gimana sih rasanya tiap hari liputan hal yang sama selama 4 bulan? Awalnya kirain bakal bosen. Ternyata setelah akhirnya nggak gerilya… Ku menyadari… Rindu itu nyesek yah. Lebay? Sesuai janji, ini nih, ceritanya… --- Bulan Oktober lalu saya mendapat kepercayaan untuk menempel pasangan calon DKI nomor urut 1, Agus Yudhoyono (Mas Agus) dan Sylviana Murni (Mpok Sylvi). Sepertinya kantor tahu saya junior-nya Mas Agus di SMA Taruna Nusantara (yaa meski terpautnya jauh banget sik 13 tahun!) Sehingga diharapkan saya bisa cepat dekat dengan Mas Agus secara personal. Saya sempat khawatir tidak bisa objektif dalam membuat berita. Tetapi kemudian saya yakinkan (cielah yakinkan, bahasa AHY banget) bahwa saya ...

Uniknya Negeri Sakura

Image
Dua minggu yang lalu saya sangat beruntung, berkesempatan meliput sebuah kerjasama antara Indonesia dengan Jepang, di negeri Sakura. Selalu ada pelajaran yang bisa dipetik dalam sebuah perjalanan. Saya menemukan beberapa hal yang unik dan sangat baik untuk ditiru. Jepang melalui masa pembentukan karakter yang begitu panjang untuk mencapai hal-hal di bawah ini. Yuk disimak! 1. Tidak ada tempat sampah di tempat umum Ya. Tidak ada tempat sampah gentong yang biasa kita temukan di sudut jalanan Jakarta. Tapi anehnya tidak ada sampah yang berserakan sama sekali lho!! Saya sempet geregetan sendiri karena kok susah ya cari tempat sampah? Saya telusuri, ternyata tempat sampah hanya ada di depan mini market. Kemudian saya menyadari sesuatu. Di Jalan Higashi Ichi-jo di Kyoto, saya menemukan tiang dengan keranjang putih berisikan jaring-jaring biru. Apaan nih? Ternyata itu tempat buang sampah warga. Setiap pagi, sampah akan ditaruh disini, dengan pembagian jadwal. Hari Senin itu untuk sampa...

Revolusi Ekonomi Digital

Image
Beradaptasi bukanlah hal yang mudah. Ingatkah perasaan ketika pertama kali masuk SD dahulu? Ketika tiba-tiba putus dengan kekasih tercinta? Ketika gebetan ngilang gitu aja ? Ya, semua terasa tidak enak. Termasuk saat ekonomi digital mulai merambah. Butuh adaptasi. Butuh revolusi. Wawancara langsung dengan Kombespol M. Iqbal, Kabid Humas Polda Metro Jaya di depan Istana terkait kericuhan di sejumlah titik demo, Selasa (23/03/2016) Saya akan memulai tulisan ini dengan menyegarkan ingatan anda akan kunjungan kerja Joko Widodo ke Amerika Serikat pada akhir Februari lalu. Ia mengunjungi pusat bisnis berbasis teknologi terbesar disana bahkan mungkin di dunia, Sillicon Valley. Sempat ia menyambangi markas Google dan Facebook disana. Ia terkesiap. Ia bermimpi Indonesia pun bisa melakukannya. Usai kunjungan tersebut, ia meminta pada warga Indonesia yang ada disana untuk kembali ke Indonesia, membangun ekonomi digital di nusantara. Beberapa hari setelahnya, Menteri Perhubungan Ignas...

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera

Image
Matahari mendadak menjadi pemalu dan meminta bulan, sahabatnya, untuk menutupi kehebatannya. Cerahnya langit perlahan-lahan memudar, digantikan kegelapan yang mencekam. Ya, gerhana matahari total (GMT) menyambangi bumi Indonesia, Rabu 9 Maret 2016. Ada 11 wilayah yang dilewati, termasuk di dalamnya kota Palembang. Kebetulan kota itu adalah tempat saya sedang bertugas selama 4 bulan terakhir. Alhamdulillah. Tim liputan Metro TV telah tiba di lokasi pengamatan GMT pada pukul 3 pagi. Ada dua titik untuk laporan langsung yakni di atas Jembatan Ampera dan di Benteng Kuto Besak. Sejumlah mobil telah silih berganti parkir di sekitar lokasi pengamatan sejak itu. Aktivitas manusia bahkan tidak berhenti sejak malam sebelumnya. Setelah GMT 1988 di Sumatera Selatan yang tidak ada gaungnya, kali ini Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Selatan gencar sekali mengajak masyarakatnya menuju Jembatan Ampera untuk menjadi bagian dari saksi fenomena alam langka GMT 2016. Bagaimana tidak, GMT sela...

Longsor Ingatkan Janji Bangun Infrastruktur

Image
Janji pemerintah tinggallah janji jika belum ada insiden yang menegurnya. Konteks yang ingin saya sampaikan dalam hal ini adalah terkait bencana longsor di Lebong Tandai, Bengkulu Utara. Pertama-tama akan saya ceritakan bagaimana sulitnya menuju tempat terjadinya longsor ini. Dari kota Bengkulu dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam untuk mencapai kabupaten Bengkulu Utara. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ala off road menuju ke posko pertama di Kecamatan Napal Putih selama kurang lebih 1 hingga 2 jam. Dari kecamatan, for safety reason kita harus menggunakan kendaraan roda empat 4x4 untuk ke wilayah Ronggeng. Hati-hati, di perjalanan ini mobil bisa nyangkut di tanah yang lembek dan dalam. Dan siap-siaplah anda akan seperti buah dalam blender , terpental-pental dalam mobil. Medan yang melelahkan, meski naik mobil. Dari Ronggeng untuk menuju ke poskonya harus berjalan 500 meter. Lalu ikuti terus rel kereta Lori (kereta pada zaman Belanda, kini digunakan untuk Molek--kendaraan modi...