Posts

Showing posts with the label mind thought

Suka Duka Wartawan Tempel AHY-Sylvi

Image
Tepat satu minggu sudah, saya tidak bergerilya. Haha bukan bukan, bukan lagi perang kok. Ituloh, istilah buatan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk kegiatan kampanye-nya setiap tatap muka dengan masyarakat. Duh. Iya, sejak bulan Oktober 2016 tiap hari saya liputan gerilya AHY. Gimana sih rasanya tiap hari liputan hal yang sama selama 4 bulan? Awalnya kirain bakal bosen. Ternyata setelah akhirnya nggak gerilya… Ku menyadari… Rindu itu nyesek yah. Lebay? Sesuai janji, ini nih, ceritanya… --- Bulan Oktober lalu saya mendapat kepercayaan untuk menempel pasangan calon DKI nomor urut 1, Agus Yudhoyono (Mas Agus) dan Sylviana Murni (Mpok Sylvi). Sepertinya kantor tahu saya junior-nya Mas Agus di SMA Taruna Nusantara (yaa meski terpautnya jauh banget sik 13 tahun!) Sehingga diharapkan saya bisa cepat dekat dengan Mas Agus secara personal. Saya sempat khawatir tidak bisa objektif dalam membuat berita. Tetapi kemudian saya yakinkan (cielah yakinkan, bahasa AHY banget) bahwa saya ...

Demokrasi 4 November yang Ditunggangi

Image
Foto udara demo 4 November (Sumber: Kompas) Jutaan warga negara Indonesia baru saja menjalani ujian mata pelajaran demokrasi. Karena ricuh sejurus, sayang belum bisa lulus. Meski begitu, apresiasi yang tinggi saya berikan pada sebagian pendemo yang konsisten mempertahankan kedamaian sepanjang unjuk rasa dan salut dengan kinerja Polri-TNI yang dedikatif mengamankan seluruh warga. Bayangkan, dalam keadaan rutinitas normal saja sebuah bom bisa meledak di Sarinah, Jakarta Pusat (14/01). Apalagi ini jutaan orang tumpah ruah di sepanjang jalan antara Monas hingga Istana Negara. Besar sekali kemungkinan teror terjadi. Tapi nyatanya, hal tersebut tidak terjadi. Itulah makanya saya sebut ini demokrasi setengah-setengah. Ternyata masih ada segelintir orang yang belum cukup dewasa untuk menerima suatu keputusan yang tidak sejalan dengan keyakinannya.   Padahal saya rasa semua sudah sepakat bahwa negara ini adalah negara hukum. Kita semua sebagai masyarakat madani berada dalam k...

Selamat! Terpidana Percobaan Bisa Ikut Pilkada

Image
Anggota dewan yang terhormat, izinkan masyarakat yang kurang pintar ini meminta pencerahan. Kami mendengar kabar bahwa pada tanggal 11 September 2016, Komisi II DPR RI bekerja keras hingga dini hari melangsungkan rapat kerja bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Kementerian Dalam Negeri yang diwakili oleh Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) membahas peraturan KPU tentang pencalonan pada pemilihan kepala daerah serentak mendatang. Apa yang membuat Yang Mulia ini berjibaku betul hingga dini hari?  Kabarnya, pembahasan alot soal pencalonan terpidana percobaan. Kami apresiasi betul kerja keras Yang Mulia. Tapi apa yang membuat pembahasan begitu alot? Pertanyaan pertama kami adalah, soal terpidana percobaan. Kami telah melihat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Menurut pasal 14a, pidana percobaan adalah suatu sistem penjatuhan pidana oleh hakim yang pelaksanaannya bergantung pada syarat-syarat tertentu atau kondisi tertentu. Artinya, pidana yang dijatuhkan oleh haki...

Angan-Angan Mudik Apik

Image
Foto udara kemacetan di Brebes Exit Kembali ke kampung halaman adalah salah satu hal yang paling ditunggu saat lebaran. Ya, 'mudik' kita menyebutnya. Gelombang manusia berbondong-bondong bergerak dari Jabodetabek ke wilayah Jawa dan Sumatera. Meski Jabodetabek juga ada di pulau Jawa, kata 'Jawa' disini identik dengan Jawa Barat, Tengah dan Timur. Berbagai transportasi bisa digunakan saat mudik, diantaranya mobil, pesawat, kereta, dan baling-baling bambu (ga nyampe2 dong). Mari kita bahas yang paling sering dibahas di TV: mudik dengan mobil. Tahun ini ada yang baru, dioperasikannya Tol Brebes Timur. Seperti anak kecil dapat mainan baru, semuanya penasaran dan ingin mencobanya. Mainan itu bernama BREXIT alias Brebes Exit. Mereka tidak tahu ternyata harapan lancar di tol justru hanya angan belaka. Mereka terjebak dalam harapan dan buaian mantan (loh). Kemacetan mengular hingga berkilo-kilo meter. Menghabiskan waktu para pemudik yang sudah kebayang-bayang opor dan re...

Bersih-Bersih Jakarta

Image
Menurut catatan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta) sejak dilantik pada tanggal 19 November 2014, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau "Ahok" telah melakukan penggusuran sebanyak 113 kali dan 96 diantaranya dilakukan dengan paksaan. Sebagian besar dilakukan dengan bantuan aparat gabungan TNI, Polri, Satpol PP dan lelaki kekar tak berseragam. Warga Jakarta yang mendiami tanah itu puluhan tahun harus pindah karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengklaim bahwa itu tanah pemerintah. Kawasan Pasar Ikan sepekan pascadibongkar (19/04/16) Awalnya penggusuran diprotes keras. Tentu anda masih ingat bagaimana ricuhnya penertiban Kampung Pulo pada Agustus 2015 lalu. Padahal tujuannya menormalisasi kali Ciliwung, agar banjir tidak terjadi lagi. Ahok lantas belajar. Pada penggusuran-penggusuran berikutnya ia menggunakan lebih banyak personil keamanan, sehingga tidak banyak perlawanan. Terakhir di kawasan Pasar Ikan. Lebih dari 900 bangunan dibongkar. Warga yang memili...

Revolusi Ekonomi Digital

Image
Beradaptasi bukanlah hal yang mudah. Ingatkah perasaan ketika pertama kali masuk SD dahulu? Ketika tiba-tiba putus dengan kekasih tercinta? Ketika gebetan ngilang gitu aja ? Ya, semua terasa tidak enak. Termasuk saat ekonomi digital mulai merambah. Butuh adaptasi. Butuh revolusi. Wawancara langsung dengan Kombespol M. Iqbal, Kabid Humas Polda Metro Jaya di depan Istana terkait kericuhan di sejumlah titik demo, Selasa (23/03/2016) Saya akan memulai tulisan ini dengan menyegarkan ingatan anda akan kunjungan kerja Joko Widodo ke Amerika Serikat pada akhir Februari lalu. Ia mengunjungi pusat bisnis berbasis teknologi terbesar disana bahkan mungkin di dunia, Sillicon Valley. Sempat ia menyambangi markas Google dan Facebook disana. Ia terkesiap. Ia bermimpi Indonesia pun bisa melakukannya. Usai kunjungan tersebut, ia meminta pada warga Indonesia yang ada disana untuk kembali ke Indonesia, membangun ekonomi digital di nusantara. Beberapa hari setelahnya, Menteri Perhubungan Ignas...

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera

Image
Matahari mendadak menjadi pemalu dan meminta bulan, sahabatnya, untuk menutupi kehebatannya. Cerahnya langit perlahan-lahan memudar, digantikan kegelapan yang mencekam. Ya, gerhana matahari total (GMT) menyambangi bumi Indonesia, Rabu 9 Maret 2016. Ada 11 wilayah yang dilewati, termasuk di dalamnya kota Palembang. Kebetulan kota itu adalah tempat saya sedang bertugas selama 4 bulan terakhir. Alhamdulillah. Tim liputan Metro TV telah tiba di lokasi pengamatan GMT pada pukul 3 pagi. Ada dua titik untuk laporan langsung yakni di atas Jembatan Ampera dan di Benteng Kuto Besak. Sejumlah mobil telah silih berganti parkir di sekitar lokasi pengamatan sejak itu. Aktivitas manusia bahkan tidak berhenti sejak malam sebelumnya. Setelah GMT 1988 di Sumatera Selatan yang tidak ada gaungnya, kali ini Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Selatan gencar sekali mengajak masyarakatnya menuju Jembatan Ampera untuk menjadi bagian dari saksi fenomena alam langka GMT 2016. Bagaimana tidak, GMT sela...

Passion Seeker

Tidak terasa sudah dua bulan saya menjalani program Journalist Development Program Metro TV. Benar ternyata kata orang. Kalau senang, kerja seperti tidak kerja. Semua berjalan menyenangkan. Bahkan ketika bertemu suatu masalah yang sepertinya menyulitkan, tidak terasa sama sekali. Rasanya menyenangkan sekali bisa menjalankan hobi dan menghasilkan uang. Banyak pertanyaan datang ketika saya upload foto selfie saya dengan seragam bertulisan "Metro TV" di instagram. Maka izinkan saya berbagi alasan saya disini. Rutinitias bisa membuat seseorang lupa akan mimpinya. Ya, saat saya berkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, semua teman saya bercita-cita menjadi pengacara kondang ibukota yang bekerja di law firm top tier dengan bergaji dolar. Selain itu ya menjadi notaris atau litigator (yang ini hanya sebagian kecil). Akhirnya mindset saya pun ikut terbentuk. Ya, saya harus bisa jadi lawyer juga! Mimpi saya sejak kecil pun kemudian semakin terlupakan dan me...