Posts

Suka Duka Wartawan Tempel AHY-Sylvi

Image
Tepat satu minggu sudah, saya tidak bergerilya. Haha bukan bukan, bukan lagi perang kok. Ituloh, istilah buatan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk kegiatan kampanye-nya setiap tatap muka dengan masyarakat. Duh. Iya, sejak bulan Oktober 2016 tiap hari saya liputan gerilya AHY. Gimana sih rasanya tiap hari liputan hal yang sama selama 4 bulan? Awalnya kirain bakal bosen. Ternyata setelah akhirnya nggak gerilya… Ku menyadari… Rindu itu nyesek yah. Lebay? Sesuai janji, ini nih, ceritanya… --- Bulan Oktober lalu saya mendapat kepercayaan untuk menempel pasangan calon DKI nomor urut 1, Agus Yudhoyono (Mas Agus) dan Sylviana Murni (Mpok Sylvi). Sepertinya kantor tahu saya junior-nya Mas Agus di SMA Taruna Nusantara (yaa meski terpautnya jauh banget sik 13 tahun!) Sehingga diharapkan saya bisa cepat dekat dengan Mas Agus secara personal. Saya sempat khawatir tidak bisa objektif dalam membuat berita. Tetapi kemudian saya yakinkan (cielah yakinkan, bahasa AHY banget) bahwa saya ...

Di Magelang 1 Hari

Image
Hari ini saya memutuskan untuk melewati satu hari di Magelang. Sungguh malang cuma punya kesempatan 1 hari. Misi utamanya adalah menjadi pembicara di SMA Taruna Nusantara. Kayaknya karena tinggal kesisa saya aja yang bisa, jadilah saya yang sharing . Padahal mah, banyak senior yang lebih kece. Hehehe. Saat itu saya naik pesawat paling pagi, dari Cengkareng. Sesampainya di Jogja itu jam 06.55 pagi, alhamdulillah dijemput sodara saya Rizki Radityo. Dia punya bisnis travel gitu, namanya @jonis_transport (harga bersahabat plus dia tahu banyak tempat gaul!). Lalu kita langsung breakfast di gudeg Hj. Ahmadiyah (?) Duh lupa, pokoknya deket UGM gitu. Gudegnya tak disangka cukup pedas karena kreceknya. Tapi yummy! Setelah itu kita main ke Fakultas Teknik UGM, kampusnya Mas Bisma. Dia sih nyebutnya "kandang" hahaha. Lalu baru deh kami memulai petualangan. 1. Gereja Ayam Bukit Rhema Kami memulai perjalanan dengan ke gereja yang hits karena film Ada Apa Dengan Cinta. Untuk bisa ...

Demokrasi 4 November yang Ditunggangi

Image
Foto udara demo 4 November (Sumber: Kompas) Jutaan warga negara Indonesia baru saja menjalani ujian mata pelajaran demokrasi. Karena ricuh sejurus, sayang belum bisa lulus. Meski begitu, apresiasi yang tinggi saya berikan pada sebagian pendemo yang konsisten mempertahankan kedamaian sepanjang unjuk rasa dan salut dengan kinerja Polri-TNI yang dedikatif mengamankan seluruh warga. Bayangkan, dalam keadaan rutinitas normal saja sebuah bom bisa meledak di Sarinah, Jakarta Pusat (14/01). Apalagi ini jutaan orang tumpah ruah di sepanjang jalan antara Monas hingga Istana Negara. Besar sekali kemungkinan teror terjadi. Tapi nyatanya, hal tersebut tidak terjadi. Itulah makanya saya sebut ini demokrasi setengah-setengah. Ternyata masih ada segelintir orang yang belum cukup dewasa untuk menerima suatu keputusan yang tidak sejalan dengan keyakinannya.   Padahal saya rasa semua sudah sepakat bahwa negara ini adalah negara hukum. Kita semua sebagai masyarakat madani berada dalam k...

Selamat! Terpidana Percobaan Bisa Ikut Pilkada

Image
Anggota dewan yang terhormat, izinkan masyarakat yang kurang pintar ini meminta pencerahan. Kami mendengar kabar bahwa pada tanggal 11 September 2016, Komisi II DPR RI bekerja keras hingga dini hari melangsungkan rapat kerja bersama Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Kementerian Dalam Negeri yang diwakili oleh Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) membahas peraturan KPU tentang pencalonan pada pemilihan kepala daerah serentak mendatang. Apa yang membuat Yang Mulia ini berjibaku betul hingga dini hari?  Kabarnya, pembahasan alot soal pencalonan terpidana percobaan. Kami apresiasi betul kerja keras Yang Mulia. Tapi apa yang membuat pembahasan begitu alot? Pertanyaan pertama kami adalah, soal terpidana percobaan. Kami telah melihat Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Menurut pasal 14a, pidana percobaan adalah suatu sistem penjatuhan pidana oleh hakim yang pelaksanaannya bergantung pada syarat-syarat tertentu atau kondisi tertentu. Artinya, pidana yang dijatuhkan oleh haki...

Transparansi Vaksin

Image
Orangtua rusuh di posko Rumah Sakit Harapan Bunda, 17/07/16 Tas sekolah dengan dominasi warna biru-merah bergambar robot dipanggul oleh seorang ibu berumur 33 tahun. Ia melangkah gontai sembari menggandeng anaknya, tergopoh-gopoh duduk untuk melepas lelah sekaligus mengantri. Ia antri untuk menyerahkan berkas di crisis centre buatan sesama orangtua anak yang terindikasi terkena vaksin palsu. Segera setelah menyeka keringatnya, ia menyeduh susu bubuk full cream  untuk anaknya yang berumur 4 tahun sembari menunggu suaminya yang sedang melengkapi berkas yang masih kurang. Wanita ini bernama Novi. Ia memutuskan untuk memvaksin anaknya di Rumah Sakit Harapan Bunda karena ia ingin yang terbaik untuk anaknya. Tiap vaksin ia harus mengeluarkan hingga 1 juta rupiah lebih. Padahal gajinya sebagai pegawai negeri sipil tidak seberapa. Ia harus menghemat pos anggaran sana sini, termasuk kebutuhan primer seperti makanan dan pakaian untuk dirinya. Ketika pengumuman Kementerian Kesehatan men...

Angan-Angan Mudik Apik

Image
Foto udara kemacetan di Brebes Exit Kembali ke kampung halaman adalah salah satu hal yang paling ditunggu saat lebaran. Ya, 'mudik' kita menyebutnya. Gelombang manusia berbondong-bondong bergerak dari Jabodetabek ke wilayah Jawa dan Sumatera. Meski Jabodetabek juga ada di pulau Jawa, kata 'Jawa' disini identik dengan Jawa Barat, Tengah dan Timur. Berbagai transportasi bisa digunakan saat mudik, diantaranya mobil, pesawat, kereta, dan baling-baling bambu (ga nyampe2 dong). Mari kita bahas yang paling sering dibahas di TV: mudik dengan mobil. Tahun ini ada yang baru, dioperasikannya Tol Brebes Timur. Seperti anak kecil dapat mainan baru, semuanya penasaran dan ingin mencobanya. Mainan itu bernama BREXIT alias Brebes Exit. Mereka tidak tahu ternyata harapan lancar di tol justru hanya angan belaka. Mereka terjebak dalam harapan dan buaian mantan (loh). Kemacetan mengular hingga berkilo-kilo meter. Menghabiskan waktu para pemudik yang sudah kebayang-bayang opor dan re...

Fenomena Brexit dan Dampaknya pada Indonesia

Image
Masyarakat Inggris Raya akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan Uni Eropa. Padahal dulu pendirian Uni Eropa memakan proses yang panjang dan sangat rumit. Kemenangan kampanye Brexit secara garis besar disebabkan persamaan perasaan masyarakat Inggris Raya yang terancam dengan banjir imigran. Mereka tidak rela tanah air leluhurnya dibanjiri pendatang. Terlebih juga telah menghimpit pemasukan, dan fasilitas publik yang biasanya mereka nikmati dengan eksklusif.  Situasinya mirip tatkala mata uang euro akan dirilis. Berlarutnya krisis ekonomi di kawasan Eropa juga menjadi faktor penting. Sejak krisis 2007/2008, negara di kawasan Uni Eropa tak lagi merasa senasib, saling menuding sebagai sumber kekacauan ekonomi. Dalam konteks referendum, Inggris merasa salah satu faktor yang membuat mereka tak segera pulih adalah dinamika kawasan yang sulit dikendalikan. Belum lagi fakta, neraca perdagangan Inggris makin besar defisitnya terhadap Jerman. Integrasi kawasan menjadi ...