Senjakala Televisi, Mungkinkah?

STASIUN televisi berita, termasuk Metro TV, kini bukan hanya harus bersaing ketat dengan stasiun televisi sejenis. Ancaman lebih kuat terhadap stasiun televisi berita adalah media sosial yang lebih cepat dan mudah diterima masyarakat.

"Zaman sudah berubah. Sekarang masyarakat lebih suka untuk mengakses berita dari media sosial, karena (penyebarannya) lebih cepat (dari televisi)," kata Wakil Direktur Media Group Henry H. Sitanggang, pekan lalu.

Secara psikologis, masyarakat ingin mendapat berita dengan cepat. Setidaknya ada informasi dasar tentang 5 W dan 1 H dari sebuah peristiwa yaitu apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana.

Misalnya ketika seseorang ingin mengetahui apakah jalan yang akan dilewatinya macet atau tidak, maka seseorang akan mengakses kanal media sosial seperti Twitter. Selain itu, saat ini jarang sekali ditemukan orang yang menunggu jam tertentu untuk menonton televisi. Mereka bisa menonton di kemudian hari dengan mengakses kanal Youtube. Ekstrimnya, mungkin saja nanti televisi hanya ditonton oleh orang-orang yang sedang menunggu di rumah sakit, restoran, atau stasiun.

Masyarakat bisa berbagi dengan gratis di internet. Tidak perlu izin siar seperti televisi, mereka bisa mempunyai waktu tayang yang tidak terbatas. Maka tidak heran kini banyak vlogger (video blogger) menjamur dan berbagi informasi di kanalnya sendiri.

Kendati demikian, menurut Manajer Newsroom Metro TV Andi Setya Gunawan, televisi masih memiliki keunggulan. Televisi sebagai media arus utama terikat oleh kode etik jurnalistik. Inilah yang menjadi pagar televisi untuk tidak menayangkan berita yang asal cepat, namun disertai akurasi dan konteks yang relevan dengan masyarakat. “Salah satu jawaban media konvensional adalah apa yang simpang siur di sosial media, publik biasanya ingin mendapatkan peneguhan kebenaran atau tidaknya di media konvensial seperti televisi kita ini,” ujar Andi.

Di salah stasiun televisi berlogo elang, Metro TV, pemilihan berita mana yang akan ditayangkan, ditentukan dalam sebuah rapat bernama rapat budget. Rapat ini mempertemukan produser sebagai pengolah berita dengan koordinator peliputan nasional dan daerah yang menjadi pengatur reporter dalam mencari berita. Rapat redaksi ini berlangsung di lantai 2 Gedung Metro TV di Kedoya, Jakarta Barat. Rapat dipimpin oleh seorang produser yang disebut dengan runner. Runner akan mengumpulkan ide-ide dari para produser yang berhamburan di ruang rapat. Ketajaman daya kritis produser dibutuhkan untuk menampilkan visual paling menarik dan bermanfaat untuk masyarakat.

Penyelenggaraan rapat bertujuan untuk memastikan berita paling baru yang akan ditayangkan dengan sudut pandang pembingkaian isu yang berbeda dari program sebelumnya. “Tujuannya ada dua, pertama agar peristiwa baru terakomodir dan kedua isu yang diagendakan bisa dijalankan,” Andi menjelaskan.

Pada rapat budget hari Rabu (24/3), runner program Prime Time News memutuskan untuk membahas soal dugaan kasus korupsi KTP elektronik. Seorang produser meminta koordinator liputan untuk menugaskan reporter lapangan untuk live report di rumah Andi Narogong, salah satu pengusaha yang diduga terlibat dalam kasus ini. Namun minimnya reporter membuat koordinator liputan tidak menyanggupi permintaan ini.

Dalam sebuah pelatihan jurnalis Media Group hari Rabu (22/3), kurangnya sumber daya manusia bisa ditangani jika sistem konvergensi diterapkan. Jika tidak berinovasi, bukan tidak mungkin senjakala menyapa televisi. “Agar bisa lebih cepat dari media sosial, nantinya seorang jurnalis harus mampu memasok berita untuk tiga platformyakni untuk online, cetak dan televisi,” pungkas Henry.

Jakarta, 24 Maret 2017
Editor: Patna Budi Utami

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera