Jadikan SMA Taruna Nusantara Hebat Kembali

Sebuah tulisan refleksi dari seorang alumni.

Jujur, perlu waktu beberapa jam untuk memahami berita tewasnya seorang adik siswa SMA Taruna Nusantara.

Hingga saat ini pun masih sangat sulit untuk mempercayai hal ini. Lebih tepatnya, batin saya menolak untuk percaya. Ketika mendapati informasi bahwa aparat kepolisian telah turun tangan menangani proses penyidikan, barulah saya mau menelan pil pahit ini. Meski rasanya... lebih dari pahit. Entah kata sifat apa yang bisa menggambarkan perasaan yang sebenarnya.

Kaget, sedih, kecewa. Semua larut dan bergolak dalam jiwa. Awan tebal menyelimuti relung kalbu saya.

Memang, saya tidak kenal dengan adik yang menjadi korban ini. Tapi rasa memiliki kami sebagai alumni terhadap almamater sangat kuat. Rasanya seperti adik sendiri.

Bagaimana tidak, kami semua pernah merasakan ditempa di kawah candradimuka kampus biru SMA Taruna Nusantara, sekolah yang digadang-gadang menghasilkan pemimpin bangsa. Kami semua berjuang melewati hari tanpa orang tua, mencuci, menyeterika, belajar, semua dilewati dengan teman-teman.

Teman-teman saya bertanya, "Memangnya tidak ada penjaga ya di setiap barak?" Tidak. Barak--yang kami sebut graha--untuk laki-laki tidak dijaga secara khusus. Pintunya pun tidak terkunci. Pasalnya, barak dikelilingi oleh rumah guru--kami menyebutnya pamong--dan seluruh siswa saling percaya karena memelihara sikap integritas sejak pendidikan awal. Kami juga mempunyai 8 kode kehormatan yang terpampang besar di setiap sudut sekolah. Ini bagai "doktrin" untuk kami.

Begini kode kehormatan terukir. Dengan tulisan kapital:
1. MENJUNJUNG TINGGI TRIPRASETYA SISWA
2. HORMAT KEPADA ORANG TUA
3. HORMAT KEPADA GURU/ PAMONG
4. PANTANG MENCONTEK
5. PANTANG MENIPU
6. PANTANG MENCURI
7. PANTANG BERKELAHI
8. PANTANG BERBUAT ASUSILA

Saat saya bersekolah, sistem pengajaran yang diterapkan para pamong adalah asah-asih-asuh. Seluruh teman dengan latar belakang sosial ekonomi agama dan suku yang berbeda dari seluruh nusatara, melebur jadi satu. Tidak bisa lagi saya yang asli Jakarta, mengunakan "lo-gue" dalam berkomunikasi. Tidak boleh ada nuansa primordialisme di dalam sekolah. Kita semua warga negara Indonesia.

Setiap kejadian selalu membawa pesan. Dalam kasus ini ada sebuah pesan untuk memperbaiki sistem. Ibarat idiom barat "elephant in the room" maka semua alumni paham bahwa sudah terlalu banyak siswa yang diterima karena "titipan." Bisa jadi anak ini memang tidak siap masuk ke SMA TN, namun karena ambisi kebanggaan orang tua, anak ini terpaksa sekolah di Magelang.

Ya. Sistem rekrutmen harus segera diperbaiki.

Sudah rahasia umum pula, sistem rekrutmen dengan sistem kontribusi dana, berimplikasi pada intervensi dari berbagai pihak dalam pengelolaan kampus SMA Taruna Nusantara.

Maka hemat saya, Lembaga Perguran Taman Taruna Nusantara perlu kembali bekerjasama dengan Taman Siswa seperti awal pendirian. Sekarang mungkin hanya dikelola oleh TNI dan Pensiunan TNI. Perlu penggalangan dana abadi untuk membiayai operasional sekolah. Dengan jaringan yang dimiliki TNI mestinya penggalangan dana itu bisa.

Sekolah kami yang terseok-seok harus segera bangkit jika tidak ingin terperosok. Kami para alumni siap untuk berkontribusi dan balas budi untuk sekolah yang telah banyak berjasa membentuk kami hari ini.

Dtulis di Jakarta,
1 April 2017

Comments

dodimawardi said…
Doa semua alumni.
Angkatan berapa dik Nadia?

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera