Bersih-Bersih Jakarta

Menurut catatan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta) sejak dilantik pada tanggal 19 November 2014, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atau "Ahok" telah melakukan penggusuran sebanyak 113 kali dan 96 diantaranya dilakukan dengan paksaan. Sebagian besar dilakukan dengan bantuan aparat gabungan TNI, Polri, Satpol PP dan lelaki kekar tak berseragam. Warga Jakarta yang mendiami tanah itu puluhan tahun harus pindah karena Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengklaim bahwa itu tanah pemerintah.

Kawasan Pasar Ikan sepekan pascadibongkar (19/04/16)

Awalnya penggusuran diprotes keras. Tentu anda masih ingat bagaimana ricuhnya penertiban Kampung Pulo pada Agustus 2015 lalu. Padahal tujuannya menormalisasi kali Ciliwung, agar banjir tidak terjadi lagi. Ahok lantas belajar. Pada penggusuran-penggusuran berikutnya ia menggunakan lebih banyak personil keamanan, sehingga tidak banyak perlawanan.

Terakhir di kawasan Pasar Ikan. Lebih dari 900 bangunan dibongkar. Warga yang memiliki dokumen-dokumen terkait tanah mereka, mendapat hak untuk mengambil kunci rumah susun milik Pemprov DKI Jakarta di Rawa Bebek dan Marunda.

Saya bukannya simpatisan Ahok. Tetapi saya mendambakan kota yang rapih dan bersih layaknya kota di negara maju. Jikalau melihatnya di seluruh Indonesia adalah suatu angan-angan, setidaknya saya ingin lihat di Jakarta dulu. Kontroversi dan penolakan menurut saya bisa diminimalisir jika Ahok bisa lebih transparan pada masyarakat. Sosoknya sebagai pemimpin kurang dekat dengan masyarakat kecil yang hanya berusaha mencari penghidupan di Jakarta.

Sesungguhnya Jakarta pun menjadi korban dalam hal ini. Korban pelarian masyarakat yang tidak mendapat pekerjaan di daerah asal mereka. Beberapa orang yang saya temui di Pasar Ikan, ada yang berasal dari Jawa Tengah, Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan. Tanpa keahlian dan pendidikan yang tercukupkan, mereka pergi ke Jakarta dengan harapan mendapat pekerjaan. Alhasil mereka hanya menjadi "sampah masyarakat" karena hanya menganggur dan kerja serabutan. Andai saja pembangunan di daerah mereka sama baiknya dengan di Jakarta mungkin mereka tidak akan berbondong-bondong ke Jakarta memberi makan pengharapan mereka tak lain dengan angin kosong belaka.

Ahok mengatakan pembongkaran Pasar Ikan ini merupakan proses revitalisasi kawasan bahari. Namun hingga kini tidak ada yang bisa menjelaskan bentuknya akan seperti apa. Deputi Gubernur Tata Ruang dan Lingkungan Oswar Mungkasa hanya mengatakan akan ada taman beserta tempat-tempat historis yang dipugar seperti Museum Bahari dan Masjid Luar Batang. Padahal mengutip kata Pakar Tata Ruang Yayat Supriatna, kawasan wisata akan lebih baik jika turut melibatkan ramah tamah masyarakat juga. Artinya, wisatawan pun juga bisa melihat kebiasaan dan hidup para nelayan yang tinggal di pesisir teluk Jakarta. Pembangunan seharusnya tidak hanya dinikmati kaum elit tapi juga rakyat yang hidup terlilit.

Ditulis di Jakarta,
20 April 2016

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik