Memburu Gerhana di Jembatan Ampera


Matahari mendadak menjadi pemalu dan meminta bulan, sahabatnya, untuk menutupi kehebatannya. Cerahnya langit perlahan-lahan memudar, digantikan kegelapan yang mencekam. Ya, gerhana matahari total (GMT) menyambangi bumi Indonesia, Rabu 9 Maret 2016. Ada 11 wilayah yang dilewati, termasuk di dalamnya kota Palembang. Kebetulan kota itu adalah tempat saya sedang bertugas selama 4 bulan terakhir. Alhamdulillah.



Tim liputan Metro TV telah tiba di lokasi pengamatan GMT pada pukul 3 pagi. Ada dua titik untuk laporan langsung yakni di atas Jembatan Ampera dan di Benteng Kuto Besak. Sejumlah mobil telah silih berganti parkir di sekitar lokasi pengamatan sejak itu. Aktivitas manusia bahkan tidak berhenti sejak malam sebelumnya. Setelah GMT 1988 di Sumatera Selatan yang tidak ada gaungnya, kali ini Dinas Budaya dan Pariwisata Sumatera Selatan gencar sekali mengajak masyarakatnya menuju Jembatan Ampera untuk menjadi bagian dari saksi fenomena alam langka GMT 2016. Bagaimana tidak, GMT selanjutnya adalah tahun 2023 di Papua. Apalagi untuk menyaksikan GMT dengan lintasan yang sama harus menunggu 300—375 tahun.

Tak heran, pagi itu tangga untuk naik ke Jembatan Ampera begitu padat. Saya harus berhenti selama 10-30 detik di tiap anak tangga. MACET TOTAL BRO EN SIS! Mana bau ketek pula, kayaknya pada nggak mandi… :”) Semua orang berdesakan ingin naik ke jembatan. Sebagian  besar adalah wisatawan lokal. Sementara sebagian besar wisatawan mancanegara yang saya wawancarai sehari sebelum, lebih memilih untuk melihat GMT dari atap hotel mereka masing-masing. Ketika sampai di atas jembatan, alangkah susahnya berjalan! Sungguh padat sampai-sampai tidak ada jarak antar manusia. Saya hanya takut jembatan sepanjang 5 km itu rubuh, kan gak lucuWkwk.

Saya tidak pernah menyangka menyaksikan proses bulan bergerak perlahan menutupi matahari terasa layaknya menonton pertandingan sepakbola. Dengan menggunakan speaker, seorang pembawa acara dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional memberi panduan dan komentar ilmiah terkait proses gerhana matahari bagai komentator sepakbola. Begitupun penontonnya, berteriak histeris ketika gerhana matahari bisa terlihat bak ada bola yang nyaris masuk ke gawang. Mengapa hal ini bisa terjadi? Langit kota Palembang tertutup awan yang begitu tebal, total hanya sekitar 5 kali gerhana matahari bisa terlihat. 



Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah, Shalaatullaah Salaamullah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah.. Tepat pukul 7:20:48 saat langit mendadak gelap, ribuan kamera terangkat, shalawat badriyah menggema menggetarkan Ampera. Tak terasa saya menitikkan air mata. Sungguh, Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya. 


Rasa haru dan terpesona begitu terasa meski gagal menyaksikan korona yang menjadi keindahan GMT. Saya tetap bersyukur bisa merasakan 1 menit 52 detik pengalaman menjadi bagian dari sejarah. Suatu hari saya bisa mengatakan pada anak dan cucu saya, “Dahulu, eyang naik ke atas mobil di Jembatan Ampera, menyaksikan lautan manusia yang tidak lagi takut gerhana matahari.”

Namun saya rasa penting untuk memberikan catatan pada penyelenggara utama acara ini yakni Dinas Budaya dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan. Secara umum acara berjalan lancar karena tidak ada korban yang terinjak-injak di Ampera. Satu dua orang saja pingsan (itupun yang saya saksikan sendiri, entah di sisi lain). Sayangnya tidak ada manajemen pergerakan orang saat itu. Tidak ada pula papan arahan, atau setidaknya posko informasi untuk mendapat pemetaan wilayah di sekitar Jembatan Ampera. Padahal informasi adalah kebutuhan dasar untuk membuat wisata terasa menyenangkan. Fasilitas lain seperti toilet portable dan tempat sampah memadai juga tidak tersedia. Sudah seharusnya ada evaluasi dan introspeksi.



Ditulis di Palembang,
11 Maret 2016

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik