Longsor Ingatkan Janji Bangun Infrastruktur

Janji pemerintah tinggallah janji jika belum ada insiden yang menegurnya. Konteks yang ingin saya sampaikan dalam hal ini adalah terkait bencana longsor di Lebong Tandai, Bengkulu Utara. Pertama-tama akan saya ceritakan bagaimana sulitnya menuju tempat terjadinya longsor ini. Dari kota Bengkulu dibutuhkan waktu kurang lebih empat jam untuk mencapai kabupaten Bengkulu Utara. Kemudian dilanjutkan dengan perjalanan ala off road menuju ke posko pertama di Kecamatan Napal Putih selama kurang lebih 1 hingga 2 jam. Dari kecamatan, for safety reason kita harus menggunakan kendaraan roda empat 4x4 untuk ke wilayah Ronggeng. Hati-hati, di perjalanan ini mobil bisa nyangkut di tanah yang lembek dan dalam. Dan siap-siaplah anda akan seperti buah dalam blender, terpental-pental dalam mobil. Medan yang melelahkan, meski naik mobil. Dari Ronggeng untuk menuju ke poskonya harus berjalan 500 meter. Lalu ikuti terus rel kereta Lori (kereta pada zaman Belanda, kini digunakan untuk Molek--kendaraan modifikasi warga bentuknya seperti kereta tetapi jauh lebih kecil) sejauh 10 km dengan waktu tempuh 3 hingga 4 jam. Selanjutnya molek barulah bisa dinaiki, dengan waktu tempuh 2-3 jam dari Sumpit hingga Desa Lebong Tandai. Dari desa ini anda harus melewati sungai. Jika air sedang pasang maka anda harus berenang, tetapi jika tidak, cukup 100 meter saja ketinggian airnya. Kemudian naik turun bukit lah anda, untuk mencapai tempat terjadinya longsor.

Bayangkan saja bagaimana lelahnya perjalanan seperti ini selama 10 jam? Apalagi kalau membawa logistik seperti kardus mie instan, bahkan karung beras, atau tabung gas. Hingga hari keempat pencarian, bantuan logistik terus berdatangan untuk tim gabungan pencarian korban longsor. Namun karena harus dipanggul secara manual satu persatu oleh relawan, proses distribusinya menjadi sangat lambat. Alhasil banyak logistik yang menumpuk di posko Ronggeng.

Bupati Bengkulu Utara Imron Rosyadi mengatakan, pemerintah kabupaten telah berupaya untuk membangun jalan menuju Lebong Tandai, tetapi masih terkendala izin karena harus melewati wilayah perusahaan. "Jalan akan dibangun dari PT API sampai Sungau Landai. Jaraknya 3,5 kilo. Itu posisinya dari Ronggeng nanti tembus ke deket desa Lebong Tandai," ujar Imron. Masalah infrastruktur memang bukan cerita baru di daerah Bengkulu. Masih banyak pekerjaan rumah terkait akses dari satu kabupaten ke kabupaten lainnya. "Sebagian besar daerah di Bengkulu seperti Bengkulu Utara, Lebong, Selumah, Bengkulu Selatan dan lainnya masih sangat buruk infrastrukturnya. Akses antar kabupaten masih sulit," ungkap Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Bengkulu Utara Mustari Abidin.

Kapolda Bengkulu, Caretaker Gubernur Bengkulu, Bupati Bengkulu Utara, Dandim 0423 Bengkulu Utara kemarin semua turun ke lapangan. Ada yang melalui darat dan ada yang jalur udara. Semoga bencana longsor ini bisa menjadi alarm pengingat bahwa janji harus segera direalisasikan. Meski biaya tidak sedikit, toh nantinya ini akan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Dalam perjalanan ke Ronggeng, mobil kami 'kepater' dan dibantu warga

Berjalan menyusuri rel kereta 'Lori' yang saat ini digunakan 'Molek'

 

Ditulis di Bengkulu,
11 Desember 2015

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T