Menapaki Memori Cileunyi

Memasuki bulan kesebelas saya berkarya di dunia jurnalistik. Saya ingin sedikit berbagi cerita tentang salah satu momen yang paling berharga di Cileunyi.

Cileunyi adalah sebuah tempat yang mempunyai arti tersendiri bagi saya. Sampai kapanpun Cileunyi dan segela kerendahan hatinya, memiliki tempat khusus di hati saya. Hal ini disebabkan, untuk pertama kalinya saya menyampaikan laporan langsung atau biasa disebut dengan live report di salah satu kecamatan di kabupaten Bandung ini. Misi besar perdana: menjadi bagian dari Monitor Mudik Lebaran 2015. Sepuluh hari sebelum lebaran dan sepuluh hari setelah lebaran, saya digosongkan di bawah langit Cileunyi. Eh? Hahaha. Saya melaporkan arus lalu lintas, seperti NTMC Polri begitu…

Ini adalah kali pertama saya keluar kota, menjalankan mandat kantor. Ini berarti saya juga harus mengurus keuangan perjalanan. Pusing bukan keliling lagi, kalo setrikaan mungkin pusing bolak balik. Untung saja ada Kak Dirhamsyah Maulana dan Kak Adi Nugroho alias Joy yang turut membantu. Alhamdulillah juga sesampainya di Cileunyi, teman-teman tim Bandung begitu suportif, seperti Kang Edwin dan Pirman eh Firman di SNG (hehe) terus ada A' Bayu dan A' Bago di juru kamera, Kang Sandi dan Kang Deni di juru mobilisasi.

Premis “kesan pertama begitu mengena” membuat saya pusing tujuh keliling dan sukses membuat saya tidak bisa tidur nyenyak, semalam sebelum live report. Sungguh tidak terbendung berbagai macam rasa. Mulai dari senang, takut, deg2an, antusias, semuanya ada. Dan ketika tiba saatnya live report, saya kebelet pipis! Ada-ada saja. Untung bukan panggilan alam lainnya.

Anda mau tahu rasanya live report? Tepat setelah saya live report, seorang editor favorit saya, Mas Indra Fatra, merekam saya dan spontan saya sedikit berteriak menyapa kamera “HAAAI AKHIRNYA LIVE PERTAMA PECAH TELOR, OH MY GOD!!” Saat live pertama itu saya tidak terlalu memperhatikan penampilan. Saya hanya bermodalkan nyaman. Maka jadilah, rambut saya dalam keadaan dijepit ke belakang, kalo kata seorang produser, “seperti mau cuci piring”.


Sungguh rasanya tidak karuan. Hati saya bergetar luar biasa. Parahnya, kadang getaran ini sampai ke pita suara juga, sehingga suara saya ikut mengeluarkan vibra. Setidaknya live report pertama sudah berlalu. Ketika beranjak ke hari kedua, saya mencoba untuk membuat pointers, sehingga tidak membaca seluruh naskah saat gambar sedang dimainkan di layar kaca. Nyatanya saya gagal total! Beberapa kali saya harus mengatakan “maksud kami” untuk memperbaiki ucapan saya.

Akhirnya Mas Idham Samana, seorang Kepala Biro Bandung yang saya hormati sampai saat ini, angkat bicara. Ia berpesan agar saya menyelamatkan dua puluh detik pertama dulu, baru bisa lebih improvisasi. Hal ini kemudian saya praktikkan.

Setelah itu live report terasa jauh lebih mudah. Ya, saya sering menyontek atau bahkan membaca catatan ketika live. Apalagi memang ada kontraprestasi sponsor yang mengharuskan kita membawa handphone berlogo saat live report. Karena jadwal live saya ini lebih sering pagi dan siang, maka saya harus pasrah mempunyai kulit hitam di bagian tangan saja alias belang blentong.

Di Cileunyi, arus lalu lintas masih malu-malu perawan. Alias gitu-gitu aja. Padahal biasanya sudah mulai macet di H-5. Kami memprediksi ini karena intervensi si tol baru Cipali. Huh, kasian Cileunyi kurang perhatian. Berikutnya kami bergeser ke Nagrek...

(to be continued)

Untuk lihat video behind the scene kami:


Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik