Pecah Telor Seorang Reporter Junior

Hari yang membuat jantung copot akhirnya datang. Setelah training beberapa bulan, saya mulai terjun ke lapangan. Beruntungnya saya, saya ditandem dengan seorang senior, Kak Stephanie Fortunata. Darinya, saya belajar tentang manajemen waktu seorang reporter untuk bisa mendapatkan semua narasumber yang diminta kordinator liputan,, dan berbagai hal teknis lainnya.



Sungguh senangnya luar biasa bisa sedekat itu dengan Ahok. Saya ngefans banget sama ketegasan Ahok dalam memimpin. Tapi sebagai jurnalis, saya harus tetap objektif dan menghilangkan admirasi itu, agar saya tetap bisa melihat kebijakan-kebijakan dan tindak tanduk Ahok dengan objektif. Ya, jurnalis tidak boleh memihak dong.

Selanjutnya tidak kalah menyenangkan. Saya bertemu in person dengan Ibu Betti Alisjahbana. Salah satu srikandi Pansel KPK. Inilah the privilege of being a journalist. Selain belanja berita, saya juga belanja pemikiran-pemikiran orang hebat. Semoga aja saya bisa sekeren ibu di masa depan. Long live woman power!

Yang terakhir, saya minta ke Kak Stephanie untuk latihan wawancara. Pertama kali saya wawancara, eh kok ya sama dosen saya sendiri, Profesor Hikmahanto Juwana. Duh, asiknya diskusi sama beliau tentang sengkarut hubungan Indonesia-Australia.

It was a fun first day! :)

15 Juni 2015
NSA

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T