Belanja Bekal yang Banyak!

Ada banyak hal yang terjadi selama lima bulan kerja dan/atau training di Metro TV. Bhwuanyak sekali (saking banyaknya) teman yang tanya, “Gimana Nad, di Metro TV?”. Sulit rasanya menjawabnya. Mau jawab “SENENG BANGET!” bahkan belum cukup menggambarkannya dengan paripurna. Selain pertanyaan yang itu, ada juga yang tanya “Gajinya berapa Nad?”. Yuk sekarang saya ceritain ya buat yang penasaran.

Setelah dua bulan di kelas, saya cukup kaget karena kantor mempercayai kami untuk keliling Jawa sendiri. Tunggu, sendiri itu gak literally sendiri lho. Saya satu tim itu berdua sama temen JDP (Balqis), dengan disediakan mobil dan driver. Loh cameramannya mana? Ya, saya atau Balqis itu sendiri. Kami dibekali kamera handy cam dan tripod hihi. Loh ngedit videonya gimana? Tenang saja, kami juga disediakan laptop dari kantor.

Selama dua belas hari, kami mengelilingi tiga belas kota (Jakarta, Merak, Anyer, Tanjung Lesung, Bogor, Puncak, Cianjur, Cimahi, Sumedang, Cirebon, Kuningan, Pekalongan, Kendal, Semarang, Ungaran, Salatiga, Solo, Magelang, Purwokerto, Bandung). Setiap hari, kami harus mengirimkan dua berita (via streaming) ke kantor. Alhamdulillah, berkat usaha dan tentunya izin Allah SWT, kami berhasil membuat enam paket berita kami dinaikkan ke program berita Metro TV. Waktu itu kami liputan tentang Pantai Tanjung Lesung, kerajinan keramik Cianjur, Tomat Rasa Kurma di Bandungan, Masjid Agung Cirebon, Museum Kereta Api Ambarawa, matahari terbit di Candi Borobudur Magelang. Ajaibnya lagi, kantor menobatkan tim kami sebagai tim dengan paket berita terbaik (dinilai dari unsur jurnalistik). Mungkin pelatihnya sedang lelah, secara saya dan Balqis gak ada yang punya background jurnalistik. Jadi semua bekal itu berasal dari dua bulan di”tatar” di kelas sama pelatih.

Pengalaman menarik lainnya adalah ketika diperbantukan menjadi Liaison Officer (LO) band Nidji di Mata Najwa on Stage UI Depok. Saya belum pernah jadi LO sebuah band. Biasanya pembicara yang serius-serius gitudeh. Nah, ternyata bertemu mereka, justru memberi inspirasi yang tidak kalah besar dari para pejabat-pejabat dan tokoh inspiratif nasional. Karena saya selalu suka ngobrol filosofis, saya coba ajak Mas Giring sang vokalis ngobrolin tentang mimpi. Dari dia saya belajar bahwa kalau kita mau, kita bisa mencapai mimpi kita. Dan jangan pernah puas. Mas Giring bilang “Kita semua di Nidji ini kuliahnya dari hidup, Nad. Tapi liat kita, we’re living in the world we want. Kita mewujudkan mimpi kita.”

Sebenarnya banyak sih cerita-cerita lainnya. Setiap harinya di kantor, Alhamdulillah saya selalu dapet ilmu baru, ketemu orang baru, yang baik banget mengajarkan teknis belanja berita dan menggoreng berita di kantor. Jujur, proses berita dari awal belanja hingga akhirnya masuk TV itu riiiiiiibet banget (at least untuk saya yang gak pernah belajar broadcasting). Mulai dari pinjem SD Card, visual inspector, IT, master control room, credit title, circulation desk, transport request. Every person must’ve started everything from being a beginner, right?

Eh iya, ada adaptasi baru juga disini. Saya belajar untuk bisa bekerja dalam berbagai waktu. Waktu Indonesia Bagian Barat, hingga Waktu Indonesia Bagian Kalong. HAHAHA. Suatu hari teman saya sadar bahwa update Path saya selalu jam-jam orang ngorok, alias tengah malam. Sontak ia kaget waktu tahu bahwa jam segitulah saya baru mulai kerja. Namanya juga TV 24 jam, harus ada berita terus dong. Hihihi. Makanya kalo tengah malem kebangun, nonton Metro TV aja yaa…


Nah kalau tentang gaji, izinkan saya mengutip kata-kata Bang Andi F. Noya yang disampaikan untuk JDP 12, “Menjadi jurnalis adalah sebuah panggilan hati. Kalau anda mencari uang, lebih baik tidak melanjutkan dari sekarang.” So it depends on us. Are we looking for money or pursuing happiness? Saya percaya rezeki akan datang ketika kita bekerja sepenuh hati. Kalau saya, saya tidak hentinya bersyukur karena selalu terbangun dengan excitement dan menunggu-nunggu kemana saya akan terjun hari ini, dan belajar dari jalanan. Intinya sih, kerjain yang kita suka aja! Hari ini jadi anak hukum, besoknya jadi jurnalis, trus ternyata malah jadi pengusaha juga. Boleh aja asal tanggungjawab dan senang! After all, it’s our life we’re living!

15 Juni 2015
NSA

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik