Sendu Minggu

Seberapapun kerasnya aku mencoba menjaga perasaan ini, aku tidak cukup tahan. Tidak tahan untuk mengingat senyummu, tidak tahan untuk menunggumu menyapaku lagi seperti dulu, tidak tahan untuk mengingat semua hal yang terjadi sebelum ini, tidak tahan untuk menyesal tidak menyatakannya padamu, tidak tahan untuk mengaku dan justru bertahan untuk menahan semua rasa yang pernah ada.

Seberapapun kerasnya aku menipu diriku, aku tahu cuma aku yang paling tahu siapa aku, cuma aku yang tahu betapa tak sanggupnya aku untuk menjadi penjahat untuk diriku sendiri.

Seberapapun kerasnya aku melupakan semua itu, diriku sendiri tahu momen itu lebih berharga dari apapun, momen itu justru yang sampai saat ini masih juga melekat dengan lem ingatanku, momen itu justru momen yang paling menggerogoti cadangan memori hingga habis tak bersisa, momen itu justru yang paling tertangkap dalam jejaring ingatanku saat ini, terus membayangi dan menghantui.

Seberapapun kerasnya aku mencoba meyakinkan pada diriku kalau kita tak akan mungkin bersatu, aku justru mencari kemungkinan-kemungkinan itu, aku justru semakin berkelana dalam imaji tak terarah, aku justru membayangkan kita pada akhirnya kamu bisa mendampingiku di pelaminan nanti.

Seberapapun kerasnya aku memikirkan kita bisa bersama, aku tahu kamu sudah menambatkan hatimu di hati orang yang kamu bilang, hanya teman. Sayangnya, aku tak mendengar itu dari matamu.

Seberapapun.... ah sudahlah. Mau sampai gajah bertelur, kita memang tidak akan mungkin bisa bersama.

XXX.

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T