Belajar Hidup dari Ibu Pedagang Stasiun UI

Entah mengapa setelah berusaha keras untuk melawan kantuk untuk menjalankan interview via skype (yang jadinya dibatalkan dan diganti besok), tiba-tiba saja rasa ingin bertemu kasur lenyap dan beralih pada rasa kebugaran yang maksimal. Mungkin karena efek kopi yang saya teguk tadi sore. Okedeh supaya mengantuk, saya putuskan untuk menuliskan pengalaman sederhana namun cukup berarti tadi petang pada teman-teman di dunia maya.

Pukul 18.43 saya selesai mengerjakan tugas dari Perpustakaan Pusat UI dan buru-buru mencari ojek untuk ke stasiun. Saya pergi dan pulang kampus selalu naik kereta. Jalan yang dilewati ojek itu sejajar dengan jalur kereta. Maka saya yang menaiki ojek itu seperti 'kejar-kejaran' dengan kereta dari arah Bogor menuju Jakarta itu. Ya, kereta yang seharusnya bisa saya naiki. Namun karena saat itu saya sedikit lelah dan membawa bawaan yang cukup berat, saya tidak mau lelah dengan menjadikan langkah gontai ini sedikit berlari, bahkan berjalan cepat. Saya yakin, kereta selanjutnya akan datang tak lama lagi.

Saya kemudian membeli karcis dan berjalan ke peron 2 tempat saya akan menunggu. Saya langsung berjalan terus sampai ke bagian depan peron karena tempat saya turun nanti--di Stasiun Tebet--pintu keluarnya ada di dekat gerbong depan kereta. Namun saat di perjalanan tersebut terdapat pengumuman bahwa belum ada kereta menuju Jakarta/Tanah Abang lagi yang akan lewat UI, bahkan belum ada yang masuk ke Bogor/Depok. Saya begitu kesal mendengarnya, belum lagi tidak ada tempat duduk kosong di peron saat itu.

Tak kehabisan akal, saya membeli minuman di suatu kios dan menumpang duduk di tempat duduk yang disediakan kios tersebut. Saya tidak meminum kopi dalam kemasan yang saya beli tersebut. Saya langsung memasukkannya ke tas. Rasanya ibu pedagang kios itu tahu kalau saya cuman mau numpang duduk. Namun bukan itu intinya.

Saat ada beberapa detik keheningan di antara saya dan ibu itu, saya memutuskan untuk memulai pembicaraan basa-basi dengan ibu itu, tentang kereta yang gangguan dan pertanyaan klasik: Ibu, udah berapa lama dagang disini? Ibu itu menjawab "Sejak kamu belum lahir sih yang pasti". Saya kaget, karena ibu itu belum terlalu tua kelihatannya. Setelah mengobrol beberapa lama, barulah saya tahu kalau ibu ini sudah berdagang sejak ia SD karena diajak ibunya, sejak tahun 1986. Ya, memang benar, tahun segitu saya belum lahir, bahkan belum dikultuskan Tuhan untuk menyapa dunia, karena ayah dan ibu saya pun belum mengikrarkan janji suci :P

Pembicaraan tersebut kemudian mengarah ke upaya penataan PT Stasiun Kereta api yang diinterpretasikan PT KAI sebagai 'penggusuran', yang saban hari pernah menjadi konflik hangat di antara warga UI. Saya sudah tidak mengikuti lagi isunya dan memang isu tersebut perlahan ditelan 'keterabaian'. Tak dinyana, bukannya mencapai suatu kesepakatan dengan PT KAI, pedagang ini ternyata belum pernah berhasil melakukan dialog komperhensif dengan PT KAI. Padahal telah berkali-kali diajukan permohonan untuk dapat duduk bersama-sama membicarakan penyelesaian masalahnya. Penggusuran ini menyangkut hajat hidup orang banyak bung! Hasil keputusan terakhir, akhir bulan ini atau awal bulan depan, stasiun UI akan diratakan.

"Saya itu terakhir ke Obudsman Mbak. Ke Komnas HAM juga sering, bosen deh. Tapi nggak kunjung ada tanggapan dari PT KAI. Capek Mbak saya. Saya ini koordinator pedagang-pedagang di 15 stasiun lo Mbak. Saya sempat stress, bahkan sampai di-healing anak Psikologi UI saking saya stressnya. Stasiun UI ini masih bisa bertahan sampai sekarang itu karena mahasiswa-nya loh Mbak. Kalo nggak ada, wah udah rata kita dari dulu. Saya itu terharu sekali anak-anak student pada tidur geletakan di depan kios saya nih, cuman pake alas spanduk-spanduk bekas. Itu kan bahkan si Ali juga sampe jatuh tuh di rel. Tangannya itu gemetaran, duh ibu tidak tega deh. Nah begitu juga yang mahasiswa pada turun ke rel di Pocin. Emang kedengerennya sih ganggu lalu lintas kereta banget ya, tapi itu memang reaksi dari ketidakadilan saat tiba-tiba banyak Ambon dan Brimob yang ngancurin kios-kios disana. Saya dan teman-teman itu lagi orasi lo, baru juga 10 menit di depan istana, tapi langsung balik ke Pocin umtuk mengerahkan bantuan massa saya kesana. Aduh Mbak.. Pusing saya Mbak... Mereka tuh gak bisa seenaknya gitu dong. Emang sih kontrak saya per Januari 2013 kemaren abis. Tapi kan saya butuh penyelesaian ini bisa turut dipikirkan bersama-sama dengan KAI. Belum lagi ya pedagang lain di stasiun ini tuh banyak yang membebankan semuanya ke saya, terus jadi penonton aja gitu, duduk manis di kiosnya. Ya emang saya bisa kalau sendiri doang? Saya ini, bukan superhero."

Ibu itu bercerita tanpa jeda, dan berkaca-kaca. Membuat hanya terdiam dan membuat saya terbelalak dalam hati. Mendengarkan sendiri secara langsung dari yang mengalaminya ternyata terasa lebih nyata dan mengiris hati. Walau sebenarnya saya sangat menyayangkan sikapnya yang berubah menjadi antipati dengan perjuangan di kalangan pedagang UI, karena lelahnya menghadapi ke-apatisan pedagang lain saat ia "berjuang".

Ketika pada akhirnya palu godam yang menghancurkan fondasi kios ini tidak bisa terelakkan lagi, ibu akan berlindung kemana?

"Saya nggak tahu Mbak harus kemana. Ya saya itu ibaratnya ya, hampir setengah dari hidup saya itu stasiun UI. Mulai dari cuman lapak sepetak di depan sono, sampe ngutang-ngutang ke Bank buat beli kios ni, ya di stasiun ini."

Tapi ibu tetap harus punya rencana bu...

"Saya percaya kok Mbak, Tuhan itu selalu punya rencana buat hamba-Nya. Tuhan itu tidak pernah tidur Mbak. Cacing aja mbak, di dalam tanah itu Tuhan udah kasih jatah rezeki Mbak. Yang penting ya mbak, saya tu diajarin almarhum bapak saya, untuk selalu berusaha tidak menengadahkan tangan. Emang sih pasrah sama Tuhan terus jadi gak ada usaha gitu ya konyol juga idupnya. Ya nanti deh saya pikirin, ha ha ha."

Beratnya hidup ibu itu ternyata tidak mematahkan semangat optimismenya dan kepercayaannya akan Tuhan yang tak pernah tidur. Ia bahkan masih bisa tertawa dan bercerita. Semoga saja selama satu jam mengobrol dengan saya, bebannya bisa menjadi sedikit lebih ringan.

Tidak terasa 60 menit sudah berlalu dan kereta yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Saya mengucapkan terimakasih pada beliau telah berbagi cerita. Saat saya bangun dari duduk saya, ibu itu berkata,

"Mbak, mbak fakultas mana sih? Fakultas Hukum ya?"

"Iya bu, kok tahu?"

"Nggak, keliatan aja. Hati-hati Mbak." Ibu itu tersenyum.

Saya tidak tahu makna kalimat terakhirnya. Ingin sebenarnya saya tanyakan lebih lanjut maksud dari kalimat yang ia ucapkan barusan apa, dan memintanya untuk memberikan elaborasi dari pernyataannya tersebut. Tapi saya lebih memilih untuk tidak ketinggalan kereta...

Di akhir posting ini, saya mau mengapresiasi anak-anak BEM UI dan rekan mahasiswa lainnya baik dari lembaga apapun maupun secara individu berusaha mengakomodir dan melindungi hak pedagang ini secara langsung. Selama saya mengobrol dengan ibu pedagang di stasiun ini, banyak mahasiswa yang mengajak ibu tersebut untuk ikut pada rapat internal pedagang dan mahasiswa. Tapi sayang, ibu ini sudah terlanjur lelah dengan perjuangannya yang 'tak berhasil'--menurutnya.

Terimakasih bu, satu pelajaran saya dapat hari ini. Bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Saya hanya berdoa, semoga ibu bisa kembali semangat berjuang lagi seperti dulu! Karena benar kata ibu, Tuhan tidak pernah tidur!

Kalau sekarang, waktunya saya tidur! :)

NSA

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik