Manusia atau Dewa #2

Hai, kita bertemu lagi Dewa.
Kali ini dalam keadaan yang sama sekali tidak kuduga. Aku tidak pernah tahu kau akan ada disitu. Begitupun kamu, yang mungkin belum (juga) menyadari keberadaanku. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku hampir meledak. Sakit jiwa ya kamu, bisa-bisa kamu dipenjara bikin orang mendapat serangan jantung semendadak itu. Kamu tahu, aku yang awalnya kelaparan mendadak kenyang dan tidak nafsu makan. Aku terlampau senang, gembira, riang, apapun lah itu mengetahui saat itu kita berjarak beberapa meter saja. Walau kita tidak berbincang. Hanya mataku dan matamu yang sesekali bertemu. Itupun hanya firasatku semata. Sejak matahari di atas kepala hingga suryanya nyaris hilang, aku tak kunjung melepaskan pandanganku padamu, mungkin sesekali melihat ke layar telepon genggam. Tapi selebihnya pendengaranku selalu siaga dan merekam. Kamu tahu? Semalam sebelum pertemuan itu, aku sudah bersiap-siap bersenandung. Catat, aku tak tahu akan ada kamu disitu! Walau aku tahu aku tak mungkin berkedudukan sama dengan biduan kesukaanmu, tetap saja, tak bisa kuperdengarkan lagu itu di kesempatan yang langka.  Yang jelas satu hal yang paling mutlak, aku rindu, Dewa. Ada komentar? Hal paling nisbi dari kenisbian yang nisbi, mungkin itu perasaan yang terpancar.

Selalu untukmu.

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik