Recent Updates

Hey guys it's a long weekend. How's your weekend going? Mine was pretty good. I'm trying to keeping up with my closest family such as my grandma, my cousin etc. Because mom & dad left me to Jogja. Dad made himself followed a meeting there and Mom followed him + visit my sister there. Beside, it's so hard to meet grandma & cousins when it's just a regular campus time, so I decided to catch 'em up.

Beberapa hari ini mood lagi fluktuatif banget. Super gampang bete. Ada aja hal-hal kecil yang ngebebanin pikiran banget sampe kayak mikirin skripsi (setdah uts semester 4 aja belum selesai coy). Tapi beberapa hari ke belakang ini juga dipertemukan sama hal-hal yang bikin gue semakin bersyukur sama hidup gue. Benar-benar tough week. Weeks to PMS itu memang selalu tough. Ya girls, you know that lah ya. Buat hal-hal yang bikin bete, gak perlu sih ya di share. We all have that. Kadang ngerasa bersalah juga kalo whining terus ke orang. It's like, hellooo emang orang itu juga gak punya masalah ya? Kayaknya cerita sesuatu yang membetekan itu gak ada gunanya. Mending cerita-cerita yang inspiring, buat diikutin, buat ditiru. Ya gak sih? Tapi hmm yah kadang-kadang cerita hal yang membetekan ke temen deket tuh bisa super meringankan banget, healing banget, apalagi kalo saran-sarannya menenangkan (kenapa jadi ngalor ngidul labil begini). Well let's just start what makes me really grateful of what God gave to me.

Suatu hari gue naik kereta. Gue duduk di tempat duduk yang deket sama tempat duduk buat orang-orang "khusus" such as yang udah tua renta, cacat fisik, ibu hamil, etc. Tempat duduk itu biasanya justru gak pernah ditempatin sama orang-orang khusus itu. Jarang deh yang duduk situ dan bener-bener orang-orang khusus yang dimaksud tempat duduk itu. Nah suatu hari, tempat duduk itu diduduki oleh seorang bapak-bapak paruh baya pake peci, dengan mata yang nggak fokus dan memegang tongkat. Gue langsung dapat menyimpulkan, bapak itu tuna netra. Begitu sudut mata gue melirik lebih jauh lagi, di sebelahnya ada seorang ibu-ibu yang sepertinya seumuran bapak ini, merangkul si bapak dengan raut muka tenang, tapi juga dengan tatapan tidak fokus. Tangan kirinya merangkul bapak-bapak tadi (yang sepertinya suaminya) dan tangan kanannya memegang tangan anak kecil pecicilan (sepertinya anaknya) yang tak bisa diam tertawa-tawa sendiri. Mata gue langsung tertuju ke mata anak kecil itu. Ia bahkan tidak mempunyai pupil. Matanya hanya terlihat bagian putihnya saja dari luar. Tetapi anak itu tertawa sangat riang di pangkuan ibunya. Bahkan seperti meloncat-loncat kegirangan. Mukanya seperti menyiratkan "Wah senang sekali aku bisa naik kereta", padahal dia tidak bisa melihat. Baru kali pertama gue sangat sedih melihat anak kecil yang tertawa. Gue cuman bisa tersenyum miris lihat satu keluarga yang tuna netra sedang pergi bersama-sama di kereta KRL AC, bukan di kereta ekonomi sembari meminta-minta.

Hmm apalagi yah? Oh iya. Belakangan keadaan negara tempat gue tinggal sekarang ini bener-bener carut marut. Mulai dari kasus korupsi wisma atlet-nya Nazaruddin lah, terus tiba-tiba menyeret nama-nama yang gak asing ditelinga kayak Angelina Sondakh, Anas Urbaningrum dkk. Terus orang-orang yang menyebut dirinya intelek ini tiba-tiba di persidangan jadi lupa semua hal, terus kasus jaksa dibacok sama aktivis yang 'enek' sama tingkah penegak hukum lah, dan lain-lainnya. Belum lagi isu kenaikan BBM yang lagi hangat-hangatnya jadi polemik. Kenaikan BBM ini juga yang menjadi pemicu timbulnya aksi-aksi demo anarkis di berbagai penjuru provinsi di Indonesia, terutama Makasar. Everybody said: "Namanya juga Makasar. Kecuali namanya mau diganti Malembut" haha LOL! And the funniest part is when a reporter asked a citizen about the riot, he answered: "Wah ini sih udah biasa ya mbak di Makasar. Sering jadi tontonan juga" wth?! Tapi yang bikin emosi itu adalah begitu denger mahasiswa yang pada demo di Makasar ini menyerang suatu resto junk food dan denger-denger sih kalo baca dari timeline twitter, mereka sampe makan dan minum juga disana. Hmm hmm... Curiga emang pada laper sih mereka. Gue sih bukannya gak setuju sama yang namanya demo ya. Bagaimanapun negara demokrasi tentu tidak membatasi rakyatnya menyampaikan aspirasi. Tapi mbok ya sadar aturan. Melek hukum gituloh. Ada aturan-aturan yang menjadi koridor kan? Ngapain sih pake aksi anarkis gitu? Ya tambah nggak simpati sih itu mah pemerintahnya. Tapi anehnya, di sisi lain ada paradigma kalo demo nggak anarkis ya nggak akan digubris. Yang tambah bikin mual lagi, waktu ngeliat sidang paripurna yang disiarin live di beberapa stasiun tv. Kelakuan mereka-mereka yang melabeli diri mereka 'wakil rakyat' Allahuakbar jauh banget dari kata tertib. Mendingan musyawarah lokal di kampus kemana-mana deh. Duh bapak ibu yang ngakunya wakil rakyat, tolong banget dong kelakuannya kenapa minus begitu sih :( kalau nanti para mahasiswa di kampus pada jadi pejabat negeri, please jangan hilangin idealisme kita, idealisme dengan landasan Tri Dharma Perguruan Tinggi kita!

Waduh ngeri banget Nadia semakin lama semakin politis aja nih omongannya, tumben-tumbenan ya! Hahaha. Tapi sebagai mahasiswa dan warga negara Indonesia yang tinggal di bumi pertiwi tercinta, wajib loh yang namanya peka sama keadaan sekitar! Contohnya dengan membaca koran, ya setidaknya  paham headline-nya deh! Kalau malas yang hardcopy-hardcopy gitu ya coba lah itu di-follow @detikcom atau akun-akun twitter yang sering share news terbaru. It's only one click away!

Tapi guys dibalik kekecewaan diri pada situasi politik yang begitu mengecewakan, mending kita nonton film Indonesia yang sekarang lagi jadi buah bibir semua orang. Yup it's The Raid! Udah hampir sebulan The Raid menghiasi beberapa bioskop di ibukota. Cuman bisa ditonton di 20 bioskop sih setahu gue. Dengan sutradara seorang berkewarganegaraan Irlandia, Gareth Evans, The Raid sukses tampil dalam berbagai festival film-film di berbagai belahan dunia. Instead of their actors' average acting, the action here was really the highlight of the film. Blood everywhere and very breathtaking. Penonton hanya diberikan waktu sedikit untuk bernafas di antara action dihiasi tembakan-tembakan dan darah dan permainan tangan kosong para pemain yang begitu menegangkan. Pemain-pemain seperti Joe Taslim, Iko Uwais, Donny Alamsyah memang tidak diragukan lagi dalam hal action film. Bangga sih The Raid bisa jadi perbincangan seluruh dunia dengan Indonesian martial art yaitu pencak silat yang begitu ditonjolkan di film ini.

Oh iya lately gue suka ngerasa bodoh deh. Bikin assumption yang suka gak masuk akal. Kadang gue mikir staff gue udah smarty enough to do something or to handle something. The fact is, gue belum pernah ngajarin apa-apa. Jadi selalu end up salah. Gue juga baru sadar kalau kebanyakan hal-hal yang membuat gue ragu untuk melakukan sesuatu itulah juga karena terlalu besar porsi asumsi dalam hidup gue. Gue suka malu bertanya karena asumsi gue pertanyaan gue not smart enough. Gue suka males cari info dengan asumsi nantinya juga infonya nyebar sendiri. Gue suka galau takut melakukan sesuatu dengan asumsi orang akan mikir gue sok kalau gue melakukan itu. Tapi lama-lama capek juga ya berasumsi. Karena rata-rata asumsi tanpa dasar itu kebanyakan nggak bener. So it's fix! Start from now on, gue gak boleh berasumsi kecuali gue udah melakukan suatu concrete actions. Bismillah.

Well udah cukup sih kayaknya cerita ngalor ngidulnya. Cukup random dan ceriwis saya malam ini. Oiya kemarin gue sempat cerita panjang lebar sama tante gue. Kesimpulan dari ngobrol itu sih cuman satu: kita harus baik sama orang, tanpa berharap feedback apapun. Kalau pada akhirnya dia jadi baik juga sama kita, or even dia cuman ngomong makasih deh, it's just a bonus. Kalau juga pada akhirnya dia malah jahatin kita, ya gak perlu balas jahatin lagi. Yang penting kita udah baik sama dia. Menjadi baiklah sama orang 100% tanpa alasan. Just it. Meski terdengar muskil dan utopis, tidak ada salahnya mencoba guys :)


xoxo,
Nadski.

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T