Mereka Bilang, Persahabatan

Seorang laki-laki yang kukenal sejak SMA. Kita berasal dari ujung dan ujung Indonesia. Tanpa pernah tahu ternyata dia orang yang sangat takut pada semut, suatu hari aku pernah dengan usilnya melemparkan rambutan penuh semut kepadanya di lorong sekolah. Aku tahu dia ketakutan luar biasa. Tapi ia yang tegas dan angkuh dengan segera melempar balik rambutan itu kepadaku. Padahal aku hanya mengenalnya sebatas nama, saat itu. Saat pada akhirnya aku benar-benar mengenalnya, ada sesuatu yang lain di balik kacamatanya yang tebal. Di balik tatapan dinginnya yang membuatku beku berada di sebelahnya. Ia selalu membawa tas itu-itu saja. Berwarna coklat dan sedikit robek di bagian depannya. Itu karena ia terserempet motor karena sedang membantu berjalan seorang nenek-nenek yang kesulitan menyebrang. Tidak ada yang pernah tahu dibalik ranking satunya, dibalik segala prestasinya, tersimpan luka begitu dalam di dalam dirinya. Hatinya yang benar-benar keras ternyata kemudian dapat membuncahkan air matanya saat aku memulai topik tentang ayah. Ia tidak pernah benar-benar memiliki waktu dengan ayahnya. Walaupun setidaknya sekali seminggu dapat bertemu, paling maksimal hanya punya waktu 30 menit, di sebuah ruangan, ruang kunjungan narapidana. Ayahnya dijebak oleh teman-teman di kantornya yang biadab, terkena vonis seumur hidup sejak ia bahkan belum menginjak SD, karena tuduhan korupsi dan penggelapan uang. Terlalu dini untuknya mengetahui apa itu korupsi, apa itu penggelapan uang, ketika yang seharusnya ia tahu hanyalah bermain dan mengenal kasih sayang ayah dan ibunya. Tapi ia begitu pintar menyembunyikan kesedihannya itu. Dengan cepat ia menyeka setitik air mata, seketika setelah ia bercerita tentang ayahnya. Aku suka melihatnya begitu bersemangat ketika bermain tennis. Entah ia belajar darimana. Gerakan tangannya yang luwes dan pukulan raketnya yang begitu kuat. Rasanya aku harus bertransformasi menjadi Anna Kournikova dulu baru bisa berhasil mengalahkannya. Dari awal aku pada akhirnya dapat berbicara dengannya, aku sudah bisa bercerita panjang lebar padanya. Entah apa yang membuatku percaya pada dia. Begitu saja mengalir. Begitu seterusnya, ia akan diam saja mendengar habis ceritaku, tanpa sedikitpun menyela. Ia akan membiarkan aku kehabisan nafas baru kemudian akan berkomentar. Ia hanya akan mengerenyitkan dahinya kalau ada teori asalku yang begitu saja terlontar dari mulutku yang tidak punya pagar ini. Ia selalu jitu menyelesaikan masalahku, kecuali yang satu itu. Ya, masalah cinta! Payah sekali dia. Emm.. Bahkan ia tidak pernah cerita apa-apa deh tentang topik yang satu itu. Kita mungkin terlalu berbeda, bahkan kalau di Cafe yang biasa kita kunjungi ini, ia tidak suka pesan kopi yang pakai whip cream, tidak suka pakai tambahan caramel, karena katanya itu kopi cupu! Ia lebih suka kopi hitam. Tapi, rasanya kan aneh! Ah tapi aku tahu benar dialah yang kucari pertama kali ketika aku ingin bercerita. Orang yang paling tahu cerita di hari terbaikku, dan juga hari terburukku ya dia, Rio. Kalau aku bisa bertanya, aku ingin tanya, sebenarnya kenapa dia gak pernah cerita masalah percintaan sih denganku?

---

Aku tak mengerti bisa-bisanya ada anak perempuan petakilan yang tiba-tiba melempariku dengan rambutan penuh semut di lorong sekolah. Saat itu sedang ramai orang! Untung saja ia berjenis kelamin perempuan sehingga aku dapat menahan bogem mentahku. Aku begitu membenci semut karena satu-satunya ingatanku tentang semut adalah hari terburukku. Bayangkan saja, sehari sebelum hari ulang tahun ayah, aku membeli kue ulang tahun terbaik untuknya dengan uang tabunganku sendiri, yang tentunya dibantu ibu juga. Saat hari ulang tahun ayah datang, aku ambil kue itu dan kuantarkan pada ayah. Saat ayah membuka kue itu, kue itu sudah dirubung semut, bentuknya sudah tidak jelas, benar-benar kue semut!! Aku tidak mengerti mengapa semut-semut itu bisa begitu besar dan seperti monster yang kelaparan. Tidak lagi indah kue-ku untuk ayahku itu. Terdengar sepele mungkin, tapi aku begitu menunggu saat-saat ini. Saat ketika ayah tersenyum dan kita bisa bersama-sama makan kue itu di ruang kunjungan narapidana. Hari itu ayah bukannya senang malah sibuk menghiburku agar tidak sedih, dan kebingungan meyakinkanku bahwa ia sama sekali tidak kecewa. Wajah perempuan rambutan (sebutkanku untuknya), sejak insiden itu tidak pernah muncul lagi di hadapanku. Takut mungkin. Ah masa bodoh. Tapi beberapa hari kemudian, ia menaruh surat di lokerku dan minta maaf. Ia mengajakku berkenalan. Ah! Bahkan aku sudah memberikan julukan padanya sebelum mengetahui namanya yang sebenarnya. Ada-ada saja perempuan ini. Pertama kalinya di Cafe, bersama seorang perempuan yang mengajakku kesini. Bukannya seharusnya pria yang mengajak? Ia mengajakku ke Cafe yang juga merupakan Cafe kesukaanku. Anehnya kita tidak pernah bertemu. Beberapa kali ke Cafe itu dengannya aku tahu ia selalu akan memesan Caramel Machiatto Frappucino dengan tambahan mint dan whip cream. Ia selalu menggigit-gigit ujung sedotan ketika kopinya habis. Aneh. Sekalipun sedang makan bisa-bisanya ia tetap melanjutkan pembicaraan. Aku selalu mendengar, dan ketika itu menyangkut masalah cinta, aku akan diam. Dia menganggap aku payah. Memang. Karena aku bingung dengan ceritanya! Dia selalu menggunakan pengandaian ketika ia berbicara cinta. Ia tidak pernah menceritakan siapa orangnya, mana bisa aku memberikannya petuah. Aku memang selalu bersikap dingin pada siapapun, tapi tidak ketika bersama dia, Tisha. Satu kebingunganku, kenapa tidak ia sebut saja sih nama pria idamannya itu, katanya dia paling percaya denganku?

--

Jelas saja kita nggak pernah ketemu di Cafe itu. Aku hanya pandai mencari tahu. Maka semua terdengar masuk akal, benar begitu?

--

Aku tak mungkin menceritakan ulang hal-hal yang sudah biasa kau lakukan, Tisha. Mengerti?

--

Lima tahun persahabatan mereka, memang, mereka saling menyanyangi. Tapi hanya masing-masing dari mereka yang tahu hal itu. Tidak pernah punya keberanian untuk menyampaikan. Mungkin dorongannya tidak terlalu kuat. Mungkin juga rasa takut kehilangan persahabatan yang telah terjalin sekian lama lebih mendominasi permainan.

Comments

suci nabbila said…
bagus lho nad (O.O)
baru baca ci ahaha makasih :")

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik