Taman Suropati di Pagi Hari


Sinar matahari memang tak langsung menyentuhku. Gagahnya pohon-pohon yang mengelilingiku ini membuat garis sinar matahari patah dan melengkung kesana kemari, berusaha menyentuhku sampai ke bawah. Sinarnya yang cerah telah membangunkanku dari hari kemarin yang terlalu melelahkan. Namun indahnya pagi terlalu sayang untuk dilewatkan.

“Tuk, tuk, tuk,” bunyi langkah kaki Pippo. Merpati yang selalu bangun paling pagi disini. Walaupun ketika ia melangkah tidak ada bunyi yang tercipta, aku lebih suka menyebutnya “tuk tuk tuk”. Langkah Pippo seakan membangunkanku. Sedikit sakit sih ketika ia melangkah kesana kemari, menginjak saudara-saudaraku yang lain. Namun aku dan saudaraku senang kalau ia melangkah, karena tanda-tanda kehidupan muncul!

Aku mendongak ke atas. Matahari seakan bersembunyi malu-malu di balik pepohonan yang rindang. Lihat disana! Tercipta prisma cahaya yang indah yah!

Seperti pagi-pagi biasanya. Selalu sepi disini. Tidak terlalu banyak yang mau datang kesini. Bersebelahan dengan kantor-kantor pejabat yang berdiri angkuh disekelilingku, keberadaanku dan teman-teman disini seakan hanya formalitas. Agar setidaknya ibukota ini punya taman kota. Miris memang. Walaupun begitu, aku selalu berjuang setiap hari. Melawan polusi dengan melakukan fotosintesis setiap hari, walaupun tidak seberapa.
Ini sudah umurku yang ke 15. Dari kecil aku hanya berharap aku bisa bertambah tinggi setinggi pepohonan, namun sepertinya tinggiku hanya segini-segini saja. Aku tak pernah seberuntung pohon beringin yang dapat melihat keadaan taman secara keseluruhan. Maka hari ini, aku memutuskan untuk berpetualang bersama Pippo. Aku memintanya untuk mencabutku dan mengajakku berkeliling taman.

Ini teman-teman Pippo, mereka senang sekali bermain kejar-kejaran di pagi hari.
Lalu aku berjalan-jalan juga keluar... Patung yang sungguh kokoh, Diponegoro.

Tak terasa petualangan ini harus berakhir sekarang... Matahari lalu kembali ke haribaannya, aku pun berpisah dengan Poppi. Aku berkelana di sekeliling taman. Berkumpul dengan rerumputan lain yang telah terpisah dengan akarnya. Tinggal menunggu waktu maka bapak yang membawa sapu lidi itu akan membawaku dan teman-teman nke tempat yang lain. Namun setidaknya, aku telah melihat indahnya taman hari ini :D



xoxo.
N.S.A.

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T