Negaraku.... Indonesia

Berjalan sepi dalam keheningan yang kejam. Apa yang salah dengan sesuatu yang kelam?
Mereka kata kelam hanya di malam? Sayangnya kelam negaraku ada di siang dan di malam. Tak elaknya buatku tenggelam. Dalam kedalaman pergulatan yang tak kunjung redam.
Tak ada yang bisa ucapkan ini hening. Semuanya bukan tidak bergeming, hanya terlalu lelah untuk menyampaikan rasa ingin.
Mereka yang tinggal di gedung raksasa yang angkuh itu tak usainya buat kami gerah. Berselimutkan kekayaan dan berbalut berlian tidaklah.Tidaklah cukup bagi pemimpin kita yang sejatinya menjadi punggawa. Gemerlap harta dan rapuhnya integritas membuat mereka berjalan tak pada khittahnya.

Untuk melihat televisi dan membaca koran saja sudah kehilangan minat. Pembantu bapak banyak yang berkhianat. Kebingungan ku menentukan siapa yang jahat. Siapakah insan mulia tempat kita si lemah yang patut dijadikan sahabat?
Kicauan pembantu bapak yang lain, yang menganggap dirinya punya hubungan yang sangat dekat dengan bapak, justru menjadi bumerang. Membela bapak, malah justru berbalik jadi satu hal yang menyerang.
Banyak yang bilang bapak tidak cekatan dan tak ubahnya sejak dulu kala. Bahkan pembantu bapak yang sering berkutat dengan timbangan keadilan mengiyakannya.
Ketidakpercayaan pada bapak menjadi simbol kekalahan demokrasi. Haruskah ada perang berikutnya untuk bangkit lagi? Keterpurukan ini tak kunjung pergi.
Negaraku, tempatku berpijak. Adakah titik terang yang terlihat barang sejenak? Di tempatku pertama kali menapak, ku yakin suatu saat ada waktunya ku kan membuat negeri ini di puncak.

N.S.A.

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik