Malam

Karena memang mimpi malam sejak dahulu, bisa selamanya bersama pagi.
Meski pada akhirnya mereka berpisah. Karena siang terlalu indah untuk sekedar menjadi kenangan.
Sebenarnya tak perlu dilupakan. Tapi, siang terus menjadi bayangan... bukan dengan hadirnya yang kasat mata, tapi kehadiran lain, di sela-sela kecil hati yang masih belum sembuh.
Yang lukanya masih menganga, entah obat-nya apa. Orang bilang, malam harus meminum obat yang namanya waktu. Pahit di awal, namun itu yang paling manjur. Tapi ternyata ada yang lebih mujarab untuk malam, ya, bintang dan bulan, selalu menemani malam di kala sedih dan sendiri.

Jadi rasanya tak perlu lagi menjemput pagi dengan susah payah. Karena kapanpun malam takkan bisa bersatu dengan pagi. Sempat terpikir untuk meninggalkan bintang dan bulan, untuk merengkuh pagi yang hilang. Tapi apakah Tuhan tidak adil?
Karena sampai kapanpun malam tidak akan bersatu dengan pagi.
Tidak,
jika Tuhan berkata lain.



NSA.

Comments

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Memburu Gerhana di Jembatan Ampera

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T