Waktu Itu Datang

Semua perasaan tercampur di malam itu. Tapi yang jelas, aku rasakan rindu. Rindu akan senyumnya, rindu akan tatapannya, rindu mendengar tawanya, rindu untuk berbagi cerita, rindu berada di mobilnya, rindu untuk hanya sekedar memperhatikan gerak-geriknya, rindu mendengarkan keluh kesahnya, rindu akan tangannya yang mengelus rambutku, rindu hangat peluknya, rindu bernyanyi bersama (walaupun suaranya lebih sering tidak bernada haha), rindu perbuatan bodohnya, rindu segala hal yang kurasakan, kurang lebih 7 bulan yang lalu.

Semua hal yang ia lakukan semalam membuat otakku berputar kembali ke memori yang terjadi 6 bulan yang lalu. Dimana setiap aku di Jogja, aku menginap di kosan kakakku yang berkuliah disini, dan ia akan menjemputku untuk pergi ke suatu tempat. Kemanapun, tempat apapun, akan selalu indah asal bersamanya.

Kali ini pun ia datang ke kosan kakakku. Aku sedikit bingung harus bersikap seperti apa. Karena kini, cerita kita berbeda. Aku dan dia yang dulu pernah punya cerita indah berdua, tak lagi bersama.

Saat akhirnya aku duduk, tepat di sebelahnya, rasa rindu itu membuncah. Rasanya seperti mimpi bisa berada di sebelahnya. Ditambah aroma mobilnya, yang bercampur parfumnya, masih sangat sama dengan yang dahulu. Tak mungkin aku lupa. Obrolan kita sangat kaku pada awalnya. Aku lebih banyak memandanginya, ia pun begitu padaku. Kedua mata yang bertemu ini sudah cukup mengungkapkan rasa rindu yang tak terkira. Namun suasana cair dalam sekejap, kita larut dalam pembicaraan yang membawa pada suasana nostalgia :")

Akhirnya kita sampai, di tempat yang menyimpan banyak kenangan, tempat yang dulu sering kita datangi. Kita sama-sama suka menonton film. Ya, Movie Box Suturan. Saat itu hujan rintik, aku dan ia menyebrang jalan, tangannya merangkul bahuku dengan erat, seakan melindungiku dari siapapun yang akan melukaiku.

Saat memilih film, ia berkata "Aku lagi stress nih, nonton yang lucu ya. Tapi nggak masalah sih kalo nggak komedi, kan ada kamu." Rasanya waktu berbalik, rasanya baru kemarin. Aku lantas menyalahi diri sendiri. And I really wish I could turn out the time. "Kenapa kamu nggak ambil komunikasi UGM? Kenapa malah di Jakarta? Life so much easier di Jogja? Ada 'dia', ada kakak? Banyak temennya, hidup sederhana?" Semua pertanyaan itu lantas membayang-bayangi, menghantuiku.

Di dalam moviebox kita duduk, dengan jarak. Namun lalu ia merangkulku, sampai tak ada 1 mili pun yang memisahkan. Aku lantas berkata, pertanyaan yang selalu terbesit di benakku setelah kita berpisah,

"Kamu kangen nggak sama aku?"

ia menjawab,

"Harus ya pertanyaan kayak gitu dijawab? Ya iyalah"

Selanjutnya, dunia hanya untuk kita. Begitu hening, kudengar degup jantungnya, oh begitupun ia, sepertinya ia dengar degup jantungku.

Ya, ini memang mimpi, aku sangat menunggu waktu ini datang. Waktu dimana aku harus tersadar bahwa aku harus bangun. Waktu dimana aku pada akhirnya sadar bahwa 7 bulan seharusnya cukup untuk membuatku melupakannya, untuk melangkah lagi ke depan, untuk tidak menengok ke belakang, menghadapi kenyataan yang ada. Waktu dimana aku akan mengatakan "selamat tinggal". Waktu dimana sudah seharusnya aku lebih menghargai hatiku. Waktu dimana aku harus segera meyakinkan diriku, inilah jalan yang terbaik. Waktu dimana aku menyadari mungkin bukan ia orang yang Tuhan pasangkan untukku. Waktu dimana aku ikhlas, dan pada akhirnya menyisakan sedikit harapan bahwa suatu hari kita akan bertemu lagi. Yang jelas, waktu dimana aku harus segera menyadari, tak hanya ia lelaki yang ada di dunia ini, yang mungkin belum Tuhan tunjukkan kepadaku.

Lalu bayang-bayang itu, menghilang. Aku kembali menjadi Nadia yang kuat. Aku tak mau selamanya menjadi -istilah temanku- Manusia Gagal Cinta. Hahaha (pathetic laugh). Kuliah, waktunya mengejar mimpi, waktunya mewujudkan mimpi, membanggakan orang tua. Berkuliah di Hukum UI, fakultas hukum terbaik di Indonesia, sudah seharusnya aku pun menunjukkan kualitas terbaikku. Untuk selanjutnya, aku tidak akan terlalu memikirkan masalah percintaan, aku akan menyibukkan diri dengan kegiatan kampus dan meningkatkan IP sehingga insyaAllah bisa cumlaude.

And I believe, at some point you will realize that you have done too much for someone or something, that the only next possible step to do is to stop. Leave them alone. Walk away. It’s not like you’re giving up, and it’s not like you shouldn’t try. It’s just that you have to draw the line of determination from desperation. What is truly yours would eventually be yours, and what is not, no matter how hard you try, will never be.

Thanks and take care you there.
See you when I see you.
From me, that finally decide to take a step :')


xoxo,
Nadski.

Comments

Golda said…
cheer up sist, lots of better guys are waiting for you
nadia sekarsari said…
i know that sist. thank you :-)

Popular posts from this blog

Lidah Digoyang di Palembang

Kandasnya Gugatan Karhutla 7,9T

Angan-Angan Mudik Apik